KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Nilai-Nilai Antikorupsi Diminta Dipertajam


SUARA MERDEKA – Jum’at, 22 Agustus 2014

SEMARANG – Nilai-nilai antikorupsi yang diimplementasikan dalam model pembelajaran siswa harus dipertajam lewat berbagai metode yang bisa diinovasi oleh para guru. Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti MHum mengatakan, sembilan nilai antikorupsi ini belum secara eskplisit disebut dalam pendidikan antikorupsi. Namun, sebenarnya nilainilai antikorupsi seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani, dan peduli sudah tercantum dalam 18 butir nilai pendidikan karakter. ”Jadi, nilai antikorupsi sebenarnya sudah ada pada pendidikan karakter, sehingga bukan hal yang asing bagi guru. Hanya saja, mungkin implementasi dalam model pembelajaran perlu dipertajam,” ungkap Prof Tri Marhaeni Pudji Astuti dalam workshop Implementasi Permberdayaan Guru Inovasi Model Pembelajaran Antikorupsi dan Sosialisasi Lomba Ide Beraksi, bekerja sama dengan KPK di Hotel Ibis Simpanglima, Kamis (21/8).

Menurut dia, tenaga pengajar saat ini sudah semakin inovatif dalam mendesain pendidikan antikorupsi sebagai bagian dari pendidikan karakter. Berbagai alat peraga perlu terus diinovasi, seperti metode ular tangga antikorupsi, simulasi antikorupsi, jam dinding, monopoli antikorupsi, ataupun bermain peran/ drama dengan memasukkan nilai-nilai positif. ”Guru sekarang semakin kreatif dan inovatif, apalagi guru TK dan SD dalam membuat model pembelajaran alat peraga. Guru SMP/SMA tidak boleh kalah dalam berinovasi, karena bila dijalankan dengan benar, tidak hanya bermanfaat bagi murid, tapi alat peraga itu juga punya nilai buat guru, karena bisa disusun untuk berkas naik pangkat,” kata Tri Marhaeni yang juga masuk dalam tim penyusun Kurikulum 2013 untuk SMA ini.

Kebiasaan Guru Besar Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Unnes itu juga menyampaikan beberapa faktor kebiasaan yang berkontribusi terhadap perilaku korupsi termasuk di sekolah adalah tradisi memberi hadiah, mental penerabas, dan budaya jam karet. Menurutnya, beberapa hal itu sering dikeluhkan guru saat harus mengajarkan hal yang baik. Hal ini juga diikuti ketika guru mencari contoh siapa orang yang tidak korupsi, misalnya. Hal ini akan sulit dilakukan, karena banyak pejabat yang korupsi, sehingga keteladanan sebagai contoh sulit dicari. ”Kurikulum 2013 mengharuskan pembelajaran kontekstual. Ketika mengeluh sulit cari contoh yang baik karena banyak pejabat korupsi, maka guru harus membalik logika. Jadi, ketika mencontohkan orang yang jelek tadi, perilakunya tidak harus diikuti oleh siswa,” katanya. (J14,J17-37)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/08/22/271058/Nilai-Nilai-Antikorupsi-Diminta-Dipertajam

26 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: