KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Machfud Minta Catatan Uang ke Anas Dibakar


SUARA MERDEKA – Sabtu, 30 Agustus 2014

image
SM/AntaraKESAKSIAN MACHFUD: Direktur PT Dutasari Citralaras Machfud Suroso (kiri) dan Direktur Operasional PT Dutasari Citralaras Ronny Wijaya menjadi saksi dalam sidang perkara yang menjerat Anas Urbaningrum di Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan, Jumat (29/8) malam. (58)

JAKARTA – Direktur Utama PT Dutasari Citralaras Machfud Suroso disebut pernah memerintahkan Direktur Operasional Ronny Wijaya untuk memusnahkan sejumlah dokumen catatan yang terkait dengan pemberian uang kepada Anas Urbaningrum. Hal itu dikemukakan Ronny saat menjadi saksi untuk Anas di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, Machfud sering memberikan uang kepada mantan ketua umum Partai Demokrat itu, dan dia membuat catatan khusus terhadap pengeluaran tersebut. “Pencatatan ada. Cuma setelah kasus Wisma Atlet kan semua berkas dihilangkan. Pak Machfud yang menyuruh memusnahkan,” kata Ronny.

Saat itu, kata dia, Machfud memerintahkan agar dokumen-dokumen ’’suap’’ itu dibakar. Dia mengatakan, namun setelah dikumpulkan oleh Machfud, dokumen-dokumen itu justru disembunyikan oleh Machfud di rumahnya. Selain itu, lanjut dia, Machfud juga disebut pernah melakukan rekayasa bukti-bukti pengeluaran perusahaan terkait pekerjaan Hambalang. Padahal, proses penyidikan kasus Hambalang di KPK sudah berjalan.

Cabut keterangan

Dia juga mengakui Machfud pernah meminta orang-orang di perusahaannya yang akan dihadirkan sebagai saksi di persidangan untuk mencabut keterangan dalam berita acara pemeriksaan yang memberatkan Anas. Dalam sidang itu juga terungkap, Ronny  meyakini Atthiyah Laila, pernah menjadi pemilik di PT Dutasari Citralaras. Menurut dia, istri Anas Urbaningrum itu pernah punya saham di perusahaan tersebut. “Dutasari dibeli pada 2008. Pemiliknya saya, Pak Machfud (Suroso) dan Bu Athiyyah. Dibeli dari siapa tidak ingat, tapi dibeli sekitar Rp 17 juta,” kata Ronny.

Dia mengatakan, porsi pembagian saham PT DCL paling banyak dipegang Machfud, sekitar 40 persen. Dirinya dan Atthiyah masing-masing mempunyai jatah saham 30 persen. Lantas pada Maret 2008, lanjut Ronny, PT M’Sons Capital ikut membeli saham perusahaan. Tetapi, dia mengaku sebenarnya di perseroan itu sama sekali tidak ada saham.

“Kemarin Pak Munadi sampaikan Pak Machfud sahamnya sebanyak 2.200 lembar, senilai Rp 2,2 M. Terus PT M’Sons Capital 1.100 lembar saham senilai Rp 1,1 miliar. Ronny Wijaya 1.100 lembar saham senilai Rp 1,1 miliar. Athiyyah Laila sebanyak 1.100 lembar saham senilai Rp 1,100 miliar. Betul begitu?” tanya Jaksa Ahmad Burhanudddin. Ronny mengatakan pembagian saham itu fiktif. “Enggak, semua enggak ada,” ujar Ronny

Temui Jasin

Terkait pelaksanaan proyek Hambalang, dia mengungkapkan, Machfud pernah menemui mantan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M Jasin. Hal itu dilakukan Machfud untuk menggertak mantan sekretaris menteri pemuda dan olahraga, Wafid Muharam. Sebab, proyek Hambalang akan diambil alih oleh Grup Permai milik M Nazaruddin.

Menurut Jaksa Ahmad Burhanuddin, saat membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Ronny, awalnya PT Dutasari sebagai subkontraktor PT Adhi Karya sudah mengincar pekerjaan pemasangan perangkat mekanikal elektrikal dalam proyek Hambalang. Tetapi, pada pertengahan 2010, Machfud mengetahui proyek itu akan diambil alih Grup Permai. “Machfud Suroso menghadap Wafid Muharam. Dengan ancaman akan melaporkan Wafid ke KPK. Betul begitu?,” tanya Ahmad dalam sidang dalam sidang Anas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (29/8).

“Betul,” jawab Ronny.

Dalam BAP disebutkan, awalnya Wafid tidak takut dengan gertakan Machfud. Dia lantas mengutus Direktur PT Asa Nusa sekaligus anggota tim asistensi proyek Hambalang, Saul Paulus David Nelwan alias Paul Nelwan menemui Jasin. Ronny mengatakan, saat itu Machfud bisa menemui Jasin di KPK karena keduanya alumnus Universitas Brawijaya.

Merasa masih tidak yakin, Wafid lantas meminta adiknya menemui Jasin bersama Machfud. Adik Wafid pun mengakui dipertemukan dengan Jasin oleh Machfud. “Setelah yakin kedekatan Machfud dengan pimpinan KPK, proyek diserahkan ke KSO Adhi Karya-Wika. Dan Machfud Suroso mendapatkan pekerjaan mekanikal elektrikal,” ujar Jaksa Ahmad.

Karena Grup Permai batal mendapat proyek Hambalang, Nazar melalui anak buahnya, Mindo Rosalina Manulang alias Rosa, meminta kembali uang pelicin Rp 10 miliar telah diberikan untuk menyogok pejabat Kemenpora dan beberapa anggota Komisi X DPR. Karena tidak punya uang, Wafid meminta Machfud menalangi dan uangnya dibawa kepada salah satu anggota tim asistensi proyek Hambalang sekaligus direktur CV Rifa Medika, Lisa Lukitawati Isa.

Dalam sidang kemarin, juga terungkap, saksi Wahyudi Utomo alias Iwan mengaku pernah mengantarkan sejumlah uang dalam tas kertas untuk Andi Alifian Mallarangeng dan Edhie ’Ibas’ Baskoro Yudhoyono. Dia tidak menjelaskan secara rinci berapa jumlah uang itu dan dalam kaitan apa diberikan kepada keduanya.

Awalnya, Jaksa Ahmad Burhanuddin bertanya kepada Iwan soal kesaksian mantan wakil direktur keuangan Grup Permai, Yulianis, dan mantan staf ahli Nazaruddin, Nuril Anwar, dalam persidangan beberapa waktu lalu.  Saat itu, Yulianis dan Nuril mengatakan pernah melihat kiriman uang untuk Andi dan Ibas dari Nazar. (D3,viva-71)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/08/30/271890

30 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: