KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Harrier Milik Anas Termasuk Gratifikasi


SUARA MERDEKA – Jum’at, 29 Agustus 2014

JAKARTA- Pemberian mobil Toyota Harrier kepada mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum digolongkan sebagai gratifikasi atau pemberian hadiah.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek Hambalang dengan terdakwa Anas Urbaningrum di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (28/8). Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan saksi ahli untuk didengarkan keterangannya. Salah satu saksi yang dihadirkan adalah ahli hukum pidana dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Edward Omar Sharif Hiariej.

Dalam keterangannya, Edward menguatkan dakwaan KPK soal pemberian fasilitas berupa mobil kepada penyelenggara negara digolongkan pemberian hadiah. Menurut dia, penerimaan hadiah bisa digolongkan sebagai tindak pidana, jika dimaksudkan penyelenggara negara tersebut melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang menjadi kewenangannya.

’’Karena memang dalam perkembangan hukum pidana, menerima fasilitas tentunya bersifat nilai ekonomis, termasuk menerima hadiah,’’ kata Edward. Dia menambahkan, seorang penyelenggara negara termasuk anggota DPR yang sudah terpilih tapi belum dilantik, dapat dijerat dengan delik pidana apabila menerima hadiah yang berkaitan dengan kewenangannya.

Karena, meski belum dilantik, kualitasnya sama dengan anggota DPR yang sudah dilantik. Sementara, saksi ahli hukum lain dari UGM, Profesor Siti Ismijadi berpendapat, seorang anggota DPR dapat disebut menerima hadiah atau janji, meski melalui orang lain yang kemudian dipakai untuk kepentingannya.

’’Kalau dia mendapatkan manfaat, dia bisa dibilang menerima. Dia diberi hibah, tidak diterima sendiri, tetapi digunakan untuk pemanfaatan penerima tersebut bisa dikatakan dia yang menerima,’’kata Ismijati. Mantan anggota Komisi X DPR periode 2009-2014, Anas Urbaningrum, didakwa menerima gratifikasi dari proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta proyek-proyek lainnya yang bersumber dari APBN.

Bantu Pencalonan

Dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum KPK yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Anas dituduh menerima uang sebesar Rp 116 miliar dan 5.261.070 dolar AS. Perinciannya, pertama dugaan menerima uang Rp 210 juta dari PT Adhi Karya untuk membantu pencalonan sebagai ketua umum di kongres Partai Demokrat tahun 2010.

Kedua, Anas diduga menerima uang dari Grup Permai sebesar Rp 84.515.650.000 dan 36.070 dolar AS untuk keperluan persiapan pencalonan ketua umum partai Demokrat. Selanjutnya, Anas diduga menerima uang dari Grup Permai sebesar Rp 30 miliar dan 5.225.000 dola AS untuk keperluan pelaksanaan pemilihan ketua umum Partai Demokrat.

Keempat, pada 12 November 2009, Anas diduga menerima satu unit mobil Toyota Harrier seharga Rp 670.000.000 dari petinggi PT Adhi Karya, Teuku Bagus M Noor. Kelima, Anas diduga menerima fasilitas terkait pencalonannya sebagai ketua umum Partai Demokrat dari PT Lingkaran Survey Indonesia (LSI) sejumlah Rp 478.632.230.

Pertimbangannya jika Anas terpilih sebagai ketua umum, semua proyek survei politik terhadap calon kepala daerah dari Partai Demokrat akan diserahkan kepada LSI. Keenam, Anas juga diduga menerima satu unit mobil Toyota Vellfire senilai Rp 735 juta dari PT Atrindo Internasional. ’’Jika dijumlahkan secara keseluruhan Anas menerima hadiah sejumlah Rp 116.525.650.000 dan 5.261.070 dolar AS,’’ kata Jaksa Yudi Kristiana.(viva-90)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/08/29/271745

30 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: