KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Yesaya Didakwa Menerima 100 Ribu Dolar Singapura


SUARA KARYA – Jum’at, 22 Agustus 2014
 
 Dakwaan

Jakarta (Suara Karya): Perkara suap untuk proyek talud laut Pantai Biak yang anggarannya dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dengan terdakwa Bupati Biak Nurnfor, Yesaya Sombuk mulai disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Yesaya didakwa menerima uang suap 100 ribu dolar Singapura dari Teddy Renyut, pengusaha yang sering mengerjakan proyek di Kementerian PDT. Uang itu diberikan dengan tujuan agar Teddy mendapatkan proyek pembangunan rekonstruksi talud abrasi pantai di Kabupaten Biak Numfor.

“Patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan sesuatu dalam jabatannya,” kata jaksa penuntut umum (JPU) Haerudin saat membacakan surat dakwaan atas nama Yesaya di hadapan majelis hakim yang diketuai Artha Theresia.

Selain proyeli pembangunan tanggul pantai tersebut, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga mengajukan permohonan anggaran untuk proyek lainnya kepada Kementerian PDT pada tahun anggaran 2014. Proyek-proyek itu diupayakan Teddy agar dikerjakan perusahaannya PT Papua Indah Perkasa, untuk itu lah suap tersebut diberikan kepada Yesaya.

Awalnya, sekitar Maret 2014 bertempat di lobi Cafe Thamrin City Mall Jakarta, Yesaya berkenalan dengan Teddy. Saat itu Yesaya belum dilantik sebagai Bupati Biak Numfor.

Selanjutnya sekitar April 2014 setelah Yesaya dilantik sebagai Bupati Biak, dia bertemu dengan Teddy di Hotel Amaris, Jakarta.

Sekitar akhir Mei 2014, Teddy memberitahu Turbey bahwa dalam APBN-P 2014 terdapat proyek Pembangunan Rekonstruksi Talud Abrasi Pantai di Biak Numfor yang akan dianggarkan oleh Kementerian PDT sebesar lebih kurang Rp 20 miliar. Teddy bersedia membantu mengawal pengusulan proyek pembangunan Talud di Kementerian PDT.

Pada awal Juni 2014, Yesaya menghubungi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Biak Numfor, Yunus Saflembolo. Dalam pembicaraan itu Yesaya yang mengaku sedang membutuhkan uang Rp 600 juta dan meminta Yunus menghubungi Teddy. Saat Yesaya sedang berada di Jakarta, dia langsung menelepon Teddy dan mengajaknya bertemu di Hotel Acacia, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu, Yesaya mengaku butuh dana Rp 600 juta.

“Dijawab Teddy Renyut dengan mengatakan bahwa saat itu dia tidak ada uang, tapi kalau Yesaya memberikan pekerjaan yang pasti, Teddy akan mengambil kredit dari bank,” ujar Jaksa. Pada 13 Juni 2014, Yesaya yang ditemani Yunis menerima uang 63 ribu dolar Singapura dari Teddy. Karena Yesaya merasa uang itu masih kurang, Teddy kembali menyerahkan 37 ribu dolar AS pada 16 Juni 2014. Saat itu lah petugas KPK menangkap Yesaya dan Teddy.

Penasihat hukum Yesaya, Pieter Ell mengaku mengerti dakwaan jaksa. Namun demikian dia tidak mengajukan keberatan. “Sehingga dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi,” Ujar Pieter. (Nefan Kristiono)

Sumber: Suara Karya, 22 Agustus 2014 ; http://kpk.go.id/id/berita/berita-sub/2091-yesaya-didakwa-menerima-100-ribu-dolar-singapura


Informasi dan Pengetahuan Terkait:

26 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: