KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Tak Bisa Selesai dengan Marah-Marah


KORAN SINDO – Sabtu, 23, Agustus 2014

PENGAMAT politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, M Yulianto mengatakan, kebijakan spektakuler Ganjar Pranowo belum terlaksana sama sekali. “Lambat merespons, follow up lambat. Contoh, kasus jembatan timbang.

Padahal problem jembatan timbang itu tidak bisa selesai hanya dengan marah-marah,” ujarnya. Dia meminta Ganjar mengintensifkan komunikasi dengan kabupaten/kota. Dia melihat Ganjar ketika berkomunikasi masih membawa bendera partainya. “Belum bisa mengutamakan kepentingan masyarakat. Masih kepentingan partai. Dominasi kepentingan partainya. Padahal Pak Ganjar itu Gubernur Jawa Tengah,” katanya. Pada tahun berikutnya, Yulianto berharap Ganjar bisa membawa Jawa Tengah daulat di bidang politik, penguatan pemanfaatan sumber daya alam, dan kedaulatan di bidang pangan. “Infrastruktur pertanian harus dikuatkan. Juga memperkuat kearifan lokal untuk memperkokoh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Bukan Pendengar yang Baik

Sekretaris Komite Penyelidikan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, Eko Haryanto, mengaku kecewa dengan kepemimpinan Ganjar selama setahun ini. Sebab wacana reformasi birokrasi yang dulu sering digulirkan saat kampanye tidak kunjung dilaksanakan. Eko menceritakan, pada Januari 2014 lalu, lembaganya bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) pernah presentasi dan memberi masukan kepada Ganjar terkait revitalisasi kode etik pegawai negeri sipil, reformasi pengadaan barang dan jasa, serta penguatan inspektorat. “Tapi apa nyatanya, tidak ada tindak lanjut yang kami harapkan,” kata dia.

Justru, ujar Eko, lembaganya telah dicatut oleh gubernur bahwa Pemprov Jateng telah menggandeng KP2KKN dan ICW untuk pembenahan di Jateng sebagaimana janji kampanyenya dengan tagline “Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi”. “Sebenarnya, kami berharap dia bisa jadi pionir dalam hal reformasi birokrasi di Jateng, seperti Ahok di Jakarta, Ridwan Kamil di Bandung, dan Risma di Surabaya. Kami kecewa dengannya. Dia bukan pendengar yang baik, malah keminter (sok pintar),” ujar dia. Eko menambahkan, lelang jabatan yang diterapkan Ganjar di Pemprov Jateng, menurut dia, tidak sepenuhnya terbuka. “Jadi belum sesuai dengan cita-cita reformasi birokrasi,” ucap dia. l amin fauzi/ eka setiawan  

Sumber : http://www.koran-sindo.com/node/414806

26 Agustus 2014 - Posted by | KP2KKN DALAM BERITA, SEPUTAR JAWA TENGAH - PROV. JATENG

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: