KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Referensi Terlengkap Anti Korupsi di Indonesia


KOMPAS – Senin, 25 Agustus 2014

ilustrasi:Buku Perpustakaan

ilustrasi:Buku Perpustakaan

Maryke van Dierman, kandidat doktor University of Adelaide, hanya satu dari banyak peneliti asing yang memanfaatkan akses layanan literatur anti korupsi di Perpustakaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia ingin mengakses hasil penelitian KPK tentang sistem perlindungan sosial di Indonesia. Setiap bulan, sedikitnya ada lima peneliti atau mahasiswa asing yang memanfaatkan Perpustakaan KPK.

Pustakawan Institute of Southeast Asian Studies, Zaleha Tamby, juga pernah merasakan manfaat akses buku-buku Perpustakaan KPK ketika membuat bibliografi pemberantasan korupsi di Indonesia. Untuk usianya yang baru lima tahun, Perpustakaan KPK menjadi sumber referensi terlengkap anti korupsi di Indonesia.

Meski menjadi perpustakaan khusus yang sesuai amanat undang-undang memang harus didirikan oleh kementerian dan lembaga negara, Perpustakaan KPK cukup berbeda dari segi koleksi dan pengklasifikasiannya. Pada 2009, saat pertama kali diresmikan Wakil Ketua KPK saat. itu, M Jasin, kondisi Perpustakaan KPK tak jauh beda dengan perpustakaan kementerian dan lembaga lain.

Waktu itu, katalogisasi koleksi bukunya tak jelas atau tidak sesuai prinsip-prinsip perpustakaan. Bahkan, rencana pengembangan koleksi juga belum ada.

Klasifikasi buku masih standar, menggunakan Dewey Decimal Classification (DDQ. Sesuai DDC, buku-buku bertema korupsi masuk klasifikasi 364. Klasifikasi sederhana ini membingungkan untuk mereka yang ingin mencari buku-buku korupsi, tetapi bertema khusus. Sementara koleksi buku KPK juga bertambah, tak hanya buku bertema korupsi, tetapi juga buku-buku lain yang berkorelasi dengan tema korupsi.

Pustakawan KPK, Lira Redata, menyebutkan, mulai 2011 dibuatlah semacam klasifikasi khusus untuk buku-buku bertema korupsi koleksi KPK. Mereka tak lagi mengacu pada sistem DDC.

Semua buku tentang korupsi diklasifikasikan menjadi 18 jenis, mulai dari teori-teori korupsi, korupsi khusus, hingga korupsi dilihat dari sudut pandang tertentu. Sudut pandang itu misalnya politik dan ekonomi, peraturan tentang korupsi, kasus-kasus korupsi, pemberantasan korupsi di Indonesia, korupsi di negara lain, peradilan, penyuapan, dan penyelewengan. Hal lain terkait whistle blower, pencucian uang, asset recovery dan asset tracing, modul korupsi, pendidikan anti korupsi, kumpulan bahan seminar, serta buku-buku fiksi korupsi.

Untuk buku-buku bertema nonkorupsi, tetapi masih ada korelasi dengan korupsi, Perpustakaan KPK tetap menggunakan sistem DDC. Selain buku, KPK juga mengoleksi sejumlah literatur hasil penelitian KPK, laporan tahunan, hingga materi edukasi. Total ada 8.000 judul buku bertema korupsi yang menjadikan Perpustakaan KPK sebagai referensi terlengkap anti korupsi di Indonesia. Koleksi ini bisa dilihat di internet melalui situs http://perpustakaan.kpk.go.id.

Perpustakaan KPK juga bekerja sama dengan sejumlah perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Katolik Soegijapranata, dan Universitas Kristen Satya Wacana.

KPK menyediakan tautan yang terhubung dengan koleksi literatur korupsi milik universitas-universitas tersebut. Program ini juga mulai diperluas dengan mengajak kerja sama perguruan tinggi lain, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Andalas.

Mulai tahun ini, untuk memperbesar akses ke perpustakaannya, KPK mulai mengoleksi buku elektronik (e-book) dan melakukan digitalisasi koleksi buku yang ada. Dengan e-book dan digitalisasi koleksi buku, diharapkan tak hanya warga Jakarta dan sekitarnya yang bisa mengakses Perpustakaan KPK. Proses digitalisasi ini terkendala, antara lain, oleh persoalan hak cipta.

Dari 8.000 judul koleksi Perpustakaan KPK, tak banyak yang ditulis oleh penulis Indonesia. Kualitas buku-buku bertema korupsi hasil karya penulis Indonesia ini masih jauh dengan penulis dari luar negeri. Temanya pun monoton. Kebanyakan soal peraturan perundang-undangan anti korupsi, jarang yang berdasarkan riset panjang.

Tak seperti buku-buku tentang korupsi karya penulis Indonesia, buku berbahasa asing hasil karya penulis luar negeri rata-rata ditulis berdasarkan riset yang lama, disertai best practices, dan tak jarang menyediakan solusi untuk permasalahan kasus-kasus korupsi. Buku-buku bertema korupsi dari luar negeri ini menjadi koleksi sangat langka. Harganya pun mahal. Ada buku koleksi Perpustakaan KPK yang berharga Rp 8 juta per buku. Ada juga empat seri buku seharga Rp 36 juta.

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina, Catur Ratna Wulandari, mengatakan sangat terbantu dengan koleksi buku Perpustakaan KPK ketika hendak menulis tesis tentang diplomasi Indonesia dalam memulangkan buronan korupsi yang kabur ke luar negeri.

Namun, tak mudah bagi masyarakat mengakses langsung Perpustakaan KPK. Agak ribet proses untuk masuk ke sana. Hal ini terkait sterilisasi pengunjung. Dari lobi gedung, setelah menyatakan maksud kedatangan ke resepsionis, pengunjung akan dijemput petugas. Setelah itu, mereka baru bisa diantar ke ruang perpustakaan di lantai dua gedung KPK. Kerumitan ini mungkiri baru berubah setelah KPK memiliki gedung baru pada akhir 2015. (KHAERUDIN)

Sumber : Kompas, 25 Agustus 2014

Sumber : http://kpk.go.id/id/berita/berita-sub/2096-referensi-terlengkap-anti-korupsi-di-indonesia

26 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: