KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Konsultan Pengawas Ditunjuk oleh Panitia Lelang


SUARA MERDEKA – Sabtu, 23 Agustus 2014

  • Kasus Dugaan Korupsi GOR Indoor Salatiga

SEMARANG – Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Salatiga Dance Ishak Palit sama sekali tidak mengetahui bahwa pekerjaan pembangunan proyek gedung olahraga (GOR) indoor Salatiga ternyata belum selesai 100% saat dana dibayarkan kepada rekanan pemenang lelang, PT Tegar Arta Kencana. Menurutnya, pencairan dana itu bisa dilakukan setelah ada tanda tangan konsultan pengawas.

Hal ini diungkapkan Dance saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dalam pembangunan GOR Salatiga dengan terdakwa Bendahara KONI Joni Setiadi dan pemegang saham PT Tegar Arta Kencana, Agus Yuniarto, di Pengadilan Tipikor Semarang, baru-baru ini.

Meski pemeriksaan dituangkan dalam berkas terpisah, kedua terdakwa disidang bersama untuk mendengarkan keterangan para saksi.

Dance mengungkapkan, dalam proyek itu konsultan pengawas ditunjuk oleh panitia pengadaan karena di KONI tidak ada yang mengetahui teknis proyek.

’’Untuk konsultan, saya sudah minta kepada panitia pengadaan dan akhirnya ditunjuk langsung oleh unit pelayanan pengadaan. Dana bisa cair setelah konsultan pengawas tanda tangan dalam berita acara yang sudah 100%,’’ paparnya di hadapan majelis hakim yang terdiri atas Gatot Susanto, Dwi Prapti, dan Agus Prijadi.

Sementara itu Sumaryono, ketua pokja III panitia lelang mengatakan, lelang pertama 12 Agustus 2011-25 Agustus 2011 dibatalkan karena peserta tidak memenuhi syarat minimal. Lelang kedua dijadwalkan kembali pada September 2011 dan dimenangi PTTegar Arta Kencana.

Untungkan Orang Lain

Dalam dakwaan jaksa penuntut, tindakan Joni Setiadi selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dinilai menguntungkan orang lain yakni Agus Yuniarto dan Joko Siswanto selaku pemilik CV Temadea.

Dari nilai kontrak Rp 3,94 miliar, terdapat kelebihan pembayaran yang berasal dari volume beton terpasang sekitar Rp 230 juta serta pajak pertambahan nilai (PPN) yang tidak dibayarkan kepada negara Rp 308,6 juta.

Selain itu ada pula kontrak jasa pengawasan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan ketentuan sebesar Rp 45,2 juta. Dari hasil uji laboratorium terhadap bahan dan konstruksi oleh ahli dari Teknik Sipil Undip, terjadi kekurangan volume beton terpasang dalam kontrak sebesar 73,12 meter kubik.

Dari pengajuan itu, telah dicairkan dana sesuai nilai kontrak Rp 3,94 miliar. Uang ini dipakai untuk pembangunan Rp 3,35 miliar, membayar PPN Rp 50 juta, lalu sisanya yakni kelebihan pembayaran Rp 230 juta dan PPN yang tidak dibayarkan sebesar Rp 318 juta dipakai untuk kepentingan pribadi terdakwa.

Sementara itu, dana jasa konsultasi pengawasan pembangunan oleh CV Tamadea dicairkan Rp 49,7 juta tetapi hanya Rp 4,4 juta yang dibayarkan untuk PPN. Sisanya Rp 45 juta digunakan Joko Siswanto. Kerugian negara dalam kasus ini sekitar Rp 583,9 juta.

Kedua terdakwa yang didampingi kuasa hukum Heru Wismanto dan Adhi Gunawan menyatakan tidak keberatan terhadap keterangan saksi. (J14,J17-59)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/08/23/271185/Konsultan-Pengawas-Ditunjuk-oleh-Panitia-Lelang

26 Agustus 2014 - Posted by | SALATIGA

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: