KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Di Tengah Keminiman Teladan


SUARA MERDEKA – Senin, 25 Agustus 2014

TAJUK RENCANA

Mari memaknai kegencaran pembudayaan sikap antikorupsi sebagai ikhtiar untuk membangun atmosfer pencegahan. Kita garisbawahi pernyataan Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti MHum, Kepala Pusat Kurikulum dan Inovasi Pendidikan Universitas Negeri Semarang dalam Sosialisasi Pendidikan Antikorupsi yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Semarang, belum lama ini. Menurutnya, sekarang ini contoh keteladanan semakin minim.          

Model pembelajaran kontekstual dalam Kurikulum 2013 menekankan contoh-contoh keteladanan yang harus disampaikan. Namun dalam realitas penjabaran nilai-nilai antikorupsi yang terkait dengan pendidikan karakter, contoh pemimpin dan tokoh yang layak diteladani di berbagai bidang dan level kini semakin terbatas. Dalam kondisi demikian, guru tentu harus menjelaskan secara sebaliknya tentang kepemimpinan dan ketokohan yang tidak patut dijadikan contoh.

Kita sependapat, guru makin kreatif dalam menginovasi metode pembelajaran antikorupsi. Berbagai best practise diketengahkan untuk mengajak, mengarahkan, dan menginternalisasikan nilai-nilai. Karakter siswa dibentuk, misalnya melalui evaluasi tentang bagaimana menepati waktu, jujur, santun, jangan membiasakan memberi hadiah kepada guru, dan sebagainya. Rasa tanggung jawab ditanamkan untuk membawa siswa punya arah dalam bersikap dan bertindak.

Pembentukan karakter lewat penanaman nilai-nilai antikorupsi perlu terus dikampanyekan di tengah keminiman contoh keteladanan dan perilaku yang tidak patut jadi panutan. Betapa berat tanggung jawab guru, apalagi ini menjadi bagian dari substansi pendidikan kontekstual dalam Kurikulum 2013. Sesungguhnyalah sosialisasi dan internalisasi itu menjadi tantangan terberat, justru di tengah kesengkarutan kehidupan penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Komitmen dan kreativitas pembelajaran di sekolah menjadi bagian dari “pengepungan” untuk melawan darurat korupsi. Bukankah hampir tak ada celah yang tidak terjangkiti? Sekecil apa pun, budaya menyelewengkan kewenangan dalam kekuasaan membutuhkan dekonstruksi dengan mindset yang sama, sehingga segi-segi penguatan karakter lewat dunia pendidikan menjadi pendorong preventif yang menopang atmosfer penciptaan efek jera dari sikap kuratif penegakan hukum.

Revolusi mental yang digaungkan oleh presiden terpilih Joko Widodo menjadi fondasi sosialisasi dan arah pendidikan karakter, sehingga bersifat jangka panjang. Inilah transformasi nilai, dengan orientasi membangun pikiran dan sikap antikorupsi. Misalnya malu untuk terlibat dan apalagi melakukan, takut risiko hukum dan sosialnya, melawan karena sadar korupsi merusak kehidupan bangsa. Sikap-sikap itulah yang antara lain dita­namkan sejak usia dini.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/08/25/271298/Di-Tengah-Keminiman-Teladan

26 Agustus 2014 - Posted by | ARTIKEL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: