KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA


SUARA MERDEKA – Jum’at, 22 Agustus 2014
 
image

JAKARTA – Mantan pegawai Muhammad Nazaruddin, Heri Sunandar, mengaku pernah disuruh mengantar uang 1 juta dolar AS (lebih kurang Rp 10 miliar) untuk Anas Urbaningrum. Heri merupakan sopir istri Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni.

Keterangan itu diungkapkan Heri saat bersaksi untuk terdakwa Anas di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (21/8). “Saya dipercaya nganter-nganter uang gitu. Saya dipanggil Bu Yulianis (Wakil Direktur Keuangan Grup Permai) untuk mengantar ke Duren Sawit (rumah Anas),” tutur Heri.

Sebelum pergi ke Duren Sawit, dia mengaku melihat seorang office boy bernama Makmur sedang mengepak uang. Selain Makmur, di sana ada juga Mindo Rosalina Manulang, Yulianis, dan seorang lainnya dari bagian keuangan.

Rosa bertanya mengenai uang tersebut kepada Heri. “Biasa Bu, mau mengantar kue,” kata Heri menirukan ucapannya saat menjawab pertanyaan Rosa. Jaksa KPK menanyakan, apakah yang dimaksud kue itu merujuk kepada uang.

Heri membenarkan. Rosa, lanjut Heri, bertanya kembali untuk siapa uang tersebut dan dia menyebut ”Duren Sawit”. Menurut Heri, ”Duren Sawit” merujuk kepada Anas Urbaningrum. “Kalau sudah menyangkut nama Duren Sawit, otomatis ke dia (Anas),” ungkapnya. Heri menambahkan, dia kemudian mengantar uang yang dibungkus kardus itu bersama ajudan Nazaruddin bernama Iwan.

Di tengah perjalanan, Iwan menghubungi sopir Anas bernama Yadi yang mengabarkan bahwa Anas tidak ada di rumah. Menurut Heri, mereka kemudian janjian untuk menyerahkan uang di Soto Pak Sadi di kawasan Wolter Monginsidi, Jakarta. “Saya sampai duluan. Kami nggak langsung serah terima.

Makan dulu, habis itu serah terima di parkiran,” tuturnya. Majelis hakim mencecar Heri tentang pemberian uang tersebut. Heri bersikukuh sudah memberikan keterangan yang benar. “Apa yang saya lakukan berdasarkan pekerjaan saya. Apa yang saya lakukan itu benar-benar (terjadi), Yang Mulia,” kata dia ketika ditanya Hakim Haswandi.

Selain Heri, saksi lain yang memberikan keterangan adalah mantan sopir Nazar, Aan Ikhyaudin. Aan menyebut hubungan antara Nazar dan Anas cukup dekat. Dia bahkan mengatakan, hubungan mereka bukan hanya antara atasan dan bawahan, tapi juga teman dekat. “Yang saya ketahui bukan hanya sebagai atasan dan bawahan, tetapi juga teman dekat. Sebab, hampir selama tiga tahun tiap hari selalu bertemu,” tuturnya.

Ketika ditanya lebih lanjut, dia menjelaskan, yang menjadi atasan adalah Anas, sedangkan bawahan adalah Nazar. Aan mengungkapkan, dia sering satu mobil dengan Anas dan juga Nazaruddin. Dia pernah mendengar percakapan keduanya. “Pak Anas sering memerintahkan Pak Nazar di dalam mobil untuk mengerjakan pekerjaan apa atau memberikan sesuatu hal kalau ada masalah,” tuturnya. Aan juga mengaku mengetahui ada sejumlah uang yang disiapkan untuk dibawa ke Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010.

Menurut dia, uang tersebut disimpan dalam 17 kardus dan digunakan untuk pemenangan Anas dalam kongres. “Untuk mendukung Anas disiapkan uang sekitar 17 dus. Sebelas dus dibawa mobil boks, enam dus dibawa Fortuner,” ungkap Aan. Aan mengaku tidak melihat langsung uang tersebut. Namun, dia diperintahkan Nazaruddin memeriksa kesiapan perjalanan ke Bandung. Aan kemudian menghubungi kepala keamanan perusahaan bernama Dede.

Menurut Aan, uang yang di dalam dus itu dibawa ke Hotel Aston yang bersebelahan dengan posko tim pendukung Anas. “Di Hotel Aston bersebelahan dengan Grand Aquilla,” tutur Aan. Ia juga mengaku ikut membagikan uang di Hotel Grand Aquilla kepada sejumlah ketua DPC.

Mobil Harrier

Dalam bagian lain kesaksiannya, Aan menyebut perusahaan milik Nazaruddin pernah membelikan mobil Toyota Harrier untuk Anas. “Iya, dari kantor,” kata Aan. Ia menuturkan, mobil itu dibeli dari sebuah dealerdi Pecenongan, Jakarta Pusat.

Dia mengaku bersama Nazar datang ke dealer tersebut untuk melihat mobil. Bahkan Anas kemudian ikut datang. Menurut dia, mobil Harrier tersebut kemudian diantar ke kantor Grup Permai di Casablanca, Jakarta Selatan. Meski demikian, Aan mengatakan bahwa mobil tersebut belum menggunakan pelat nomor B-15-AUD.

“Saat itu pelat belum itu, masih sementara, setelah itu sore langsung dipakai beliau (Anas),” kata dia. Dia menuturkan, ada sejumlah mobil yang pernah digunakan oleh Anas, antara lain Toyota Camry B-15-TA, Toyota Alphard B-15-OA, dan Toyota Harrier B- 15-AUD. Saat disinggung apakah Anas juga menggunakan mobil XTrail, Aan mengatakan bahwa kendaraan itu merupakan mobil pengawal Anas. “Setelah jadi ketua umum kan dikawal,” ujarnya. Seperti diketahui, jaksa KPK mendakwa Anas menerima hadiah atau gratifikasi berupa dua mobil mewah dari proyek Hambalang dan proyek- proyek lain.

Anggota Komisi X DPR periode 2009- 2014 itu didakwa menerima mobil Harier senilai Rp 670 juta dan satu mobil Vellfire senilai Rp 735 juta. Jaksa juga mendakwa Anas menerima uang dari kegiatan survei pemenangan Kongres Partai Demokrat tahun 2010 sebesar Rp 487 juta, serta uang Rp 116 miliar dan 5,2 juta dolar AS. (D3,viva-59)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/08/22/271043/Satu-Juta-Dolar-AS-Diantar-ke-Rumah-Anas

26 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: