KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

“Piye Jaksa Iki…”


SUARA MERDEKA – Selasa, 19 Agustus 2014

SELAIN cermat dan adil, seorang hakim juga dituntut sabar saat me­mimpin sidang. Pasalnya, profesi dan karakter orang-orang yang di­ha­dapkan ke ruang pengadilan beraneka ragam.

Itu pula yang dihadapi Ketua Majelis Ha­kim Erintuah Damanik ketika me­mimpin sidang kasus dugaan ko­rupsi dana kas desa hasil sewa ta­nah banda desa yang merugikan ne­gara Rp 73,9 juta di Peng­adilan Tipikor Se­marang, baru-baru ini.

Da­lam si­dang yang beragendakan pe­me­rik­sa­an saksi, Erintuah harus bersuara lantang dan mengulang-ulang perta­nya­annya.

Pasalnya, dari 13 petani yang menjadi saksi, sebagian telah berusia lanjut dan lulusan sekolah dasar. Bahkan ada yang mengalami gangguan pende­ngaran. Kebanyakan saksi juga menggunakan bahasa Jawa krama inggil dalam sidang de­ngan terdakwa Nizar Ma­lik, mantan ke­pala Desa Rowoboni, Ke­camatan Ba­nyu­biru, Kabupaten Se­ma­rang tersebut.

Kesabaran sang hakim makin diuji ka­rena jaksa dari Kejaksaan Negeri Am­barawa, Ricky Panggabean, membuat beberapa kesalahan dalam pe­nyusunan berkas dakwaan. Data tempat tinggal yang seharusnya diisi alamat rumah justru bertuliskan identitas aga­ma.

Sebaliknya, kolom agama justru ber­isi alamat rumah saksi, seperti Du­sun Ro­wo­ganjar dan Dusun Rowo­ka­sam, Ke­ca­mat­an Banyubiru, Ka­bu­paten Se­ma­rang. “Tem­pat tinggal, Is­lam. Agama, Dusun Ro­woganjar. Wis, piye jaksa iki (Ba­gai­mana jaksa ini),” kata Erintuah saat membacakan data satu per satu saksi.

Hakim pun meminta jaksa merevisi da­ta tersebut. Spontan Ricky menjawab lantang, “Siap, Pak’’.

Bagi Hasil

Erintuah kemudian mulai mengorek dana bagi hasil pemanfaatan lahan oleh saksi di tanah banda desa dengan sistem paro itu. Para petani, di antaranya Madi, Tu­kimin, Budi Setiono, Muh Sakim, Muk­mini, Nur Muham­mad, Slamet Wagiyo, Mukhlasin, Ngatini, dan Sartono ditanya bergiliran.

Sebagaimana dakwaan jaksa, Ni­zar didakwa melakukan perbuatan me­lawan hukum, memperkaya diri sen­diri sehingga merugikan keuangan negara saat menjabat kades Ro­wo­boni periode 1998-2006. Uang sewa yang se­mes­tinya masuk kas de­sa malah digunakan untuk kepentingan pribadi.

Tukimin mengaku mendapat ke­sem­patan untuk menggarap tanah banda desa. “Uang yang saya setorkan total Rp 1.050.000,” jelasnya. Ter­­dak­wa yang mengaku mencatat da­na bagi ha­sil keberatan atas pernyataan saksi. Ba­nyak setoran yang disampaikan sak­si berbeda dari catatannya. (Royce Wijaya SP-59)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/08/19/270720

21 Agustus 2014 - Posted by | UNGARAN - KAB. SEMARANG

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: