KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

KPK Dalami Kesaksian Yulianis


SUARA KARYA – Rabu, 20 Agustus 2014

JAKARTA (Suara Karya): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendalami kesaksian mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai Yulianis yang mengungkap adanya aliran dana ke politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fahri Hamzah. Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara KPK Johan Budi SP di kantornya, kemarin.

“Setiap keterangan saksi di persidangan, termasuk keterangan yang diberikan oleh Yulianis, saksi persidangan di bawah sumpah, tentu akan didalami oleh KPK,” kata Johan.

Di tempat terpisah, Ketua DPP Partai Demokrat Achsanul Qosasi mendesak KPK untuk segera menelusuri kesaksian Yulianis yang menyebutkan Ketua DPR Marzuki Alie menerima uang dari Nazaruddin sebesar 1 juta dolar AS.

Johan Budi menegaskan, kesaksian Yulianis tersebut harus didukung dengan alat bukti. Jika kesaksian itu diperkuat dengan barang bukti, maka KPK bisa membuka penyelidikan baru.

“KPK bisa membuka penyelidikan baru terkait keterangan yang tidak terkait dengan terdakwa (karena keterangan ini disampaikan di depan persidangan),” ujar dia. Dalam persidangan perkara dugaan gratifikasi terkait proyek Pusat Pelatihan, Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, Bogor yang terdakwanya Anas Urbaningrum.

Yulianis mengaku pernah memberikan uang dalam amplop senilai 25 ribu dolar AS untuk Fahri Hamzah. Pengeluaran uang untuk Fahri tersebut dicatat Yulianis sebagai uang muka pembelian mobil sesuai dengan arahan Nazaruddin. Keterangan itu disampaikan Yulianis, ketika ditanyai pengacara Anas, Handika Honggowongso mengenai inisial FAH dalam catatan keuangan Permai Group.

“Kejadiannya waktu itu adalah saya dipanggil Pak Nazar ke lantai 7 di Tower Permai di Mampang, saya dipanggil sama Pak Nazar disuruh bawa uang 25 ribu dolar AS. Setelah sampai di atas itu ada Pak Fahri Hamzah,” kata Yulianis.

Yulianis mengaku awalnya tidak mengetahui perihal Fahri Hamzah. Dia mengaku baru mengetahuinya saat Fahri sering muncul di televisi siaran.

“Tapi setelah melihat di TV, saya tahu itu Pak Fahri yang dari PKS,” ujar Yulianis di hadapan persidangan tersebut.
Menurut Yulianis, saat mendatangi kantor Nazar, Fahri tidak banyak berbicara. Dia menyatakan, amplop yang berisi uang hanya diletakan di meja di depan tempat duduk Fahri. Yulianis mengaku anggota Komisi III itu hanya tersenyum saat dimintai tandatangan sebagai tanda terima dalam kas pengeluaran perusahaan Nazar.

Tetapi, karena Fahri tidak melakukannya, maka Nazar lah yang memberi tanda di kas tersebut. Selanjutnya, Yulianis mengaku menanyakan kepada Nazar mengenai keperluan pengeluaran uang tersebut.

“Catat saja itu DP pembelian mobil. Tidak terkait dengan proyek,” kata Yulianis menirukan ucapan Nazar saat itu.

Sementara itu; Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto mengaku pihaknya akan menindaklanjuti informasi soal perpindahan aset milik Muhammad Nazaruddin yang sudah diblokir KPK. Menurut Bambang, informasi tersebut juga perlu diklarifikasi dengan teliti. Hal ini untuk melihat apa saja aset yang diblokir kemudian berpindah tangan.

Informasi tersebut juga diungkapkan Yulianis saat bersaksi untuk Anas Urbaningrum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta beberapa waktu lalu.

Sementara itu Ketua DPP Partai Demokrat, Achsanul Qosasi meminta KPK menelusuri kebenaran kesaksian Yulianis yang menyebutkan Ketua DPR Marzuki Alie menerima uang dari Nazarudin sebesar 1 juta dolar. Sebab, kalau tidak, akan berkembang menjadi fitnah dan merugikan pihak-pihak yang sesungguhnya tidak terlibat.

Ketika menjadi saksi untuk terdakwa Anas Urbaningrum pada Senin (18/8) di Pengadilan Tipikor, Yulianis antara lain menyebutkan Ketua DPR, Marzuki Alie pernah menerima uang sebesar 1 juta dolar dari perusahaan milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

“Sebenarnya ini cerita lama ya, tahun 2011-2012. Saya berharap KPK segera menindaklanjuti hal ini agar menjadi jelas apakah betul Pak Marzuki menerima uang 1 juta dolar AS,” kata Achsanul Selasa (19/8).

Marzuki Alie telah membantah tudingan tersebut bahwa dirinya tidak pernah menerima uang dari Anas. Dan, sebagai tim sukses Marzuki di kongres Partai Demokrat di Bandung tahun 2010 lalu, Achsanul menegaskan bahwa pihaknya tidak pemah menerima uang sejumlah 1 juta dolar, dan tidak membagi-bagikan uang dalam kongres tersebut.

“Saya Timses waktu itu bekerja untuk membantu beliau, tidak ada membagikan uang itu, dan tidak menerima uang itu,” tambahnya. (Nefan Kristiono/Kartoyo DS)

Sumber: Suara Karya, 20 Agustus 2014

20 Agustus 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: