KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Mantan Koordinator BKM Sarirejo Dituntut 3,5 Tahun


SUARA MERDEKA – Selasa, 12 Agustus 2014

SEMARANG – Machfud Effendy, mantan koordinator Bantuan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Sarirejo, Semarang Timur dituntut hukuman pidana tiga tahun enam bulan serta denda Rp 50 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Jaksa penuntut umum (JPU), Aeniwati dalam pembacaan tuntutannya juga membebankan terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 84,1 juta subsidair satu tahun sembilan bulan kurungan.

”Meminta majelis hakim yang memeriksa terdakwa, menuntut dengan pidana tiga tahun enam bulan serta denda Rp 50 juta subsidair tiga bulan kurungan,” kata jaksa penuntut dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (11/8). Jaksa menyatakan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan melawan hukum dan melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang nomor 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20/2001 tentang tindak pidana korupsi.

Akibat tindakan terdakwa negara dirugikan sebesar Rp 84,1 juta sesuai audit BPKPJawa Tengah. ”Sesuai fakta di persidangan bahwa unsur melawan hukum ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan termasuk unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain,” terangnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Hastopo.

Keperluan Pribadi Dalam kasus ini, dana bantuan yang dikucurkan di Sarirejo total sebesar Rp 225 juta, yakni sebanyak Rp 220 juta dari APBN dan APBD Rp 5 juta tahun 2012 yang dicairkan dalam lima tahap. Terdakwa selaku koordinator BKM saat itu telah menerima pencairan dana sebesar Rp 95 juta dari proposal yang diajukan untuk enam kegiatan di antaranya rehabilitasi sumur dan kamar mandi umum, usaha cuci pakaian dan pembuatan sangkar burung.

Dari enam kegiatan yang diusulkan, hanya satu kegiatan yang terlaksana, yakni pembuatan sangkar burung senilai Rp 6 juta. Sisanya, Rp 89 juta diduga tidak disalurkan sebagaimana mestinya dan diduga digunakan tersangka untuk keperluan pribadi. Namun sesuai audit BPKP Jateng, jumlah kerugian sebesar Rp 84,1 setelah dikurangi dengan mesin cuci untuk salah satu kegiatan laundry.

Sesali Perbuatan

Sementara itu, terdakwa Machfud mengaku menyesali perbuatannya itu dan tidak akan mengulanginya lagi. Menurutnya, dari sebagian kerugian negara itu sebagian besar dipakainya untuk ”nomboki” proyek-proyek di program sebelumnya.

Apalagi sebelum tiga tahun menjadi koordinator BKM, ia pernah menjabat sebagai sekretariat serta sejumlah kedudukan lainnya mulai dari Ketua RW, Ketua PPS, dan lainnya. Kini ia sedang berupaya untuk mengembalikan uang yang telah dipakainya supaya bisa meringankan hukumannya. ”Ada niat saya rencana untuk mengembalikan, sekarang memang sedang berusaha cari-cari (pinjaman).

Uang itu tidak saya pakai untuk keluarga tapi untuk nomboki proyek-proyek sebelumnya, ada juga yang meminjam tapi belum dikembalikan ada yang masih mencicil juga. Jujur saya ini tidak tega kalau ada yang minta tolong saya sudah kapok menjabat gitu-gitu lagi,” paparnya di luar sidang. (J14,J17-72)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/08/12/269962

18 Agustus 2014 - Posted by | SEMARANG

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: