KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Anggaran Semu Pendidikan


SUARA MERDEKA – Sabtu , 12 juli 2014

TAJUK RENCANA

Seorang calon wakil presiden, baru-baru ini membanggakan porsi anggaran pendidikan kita  dalam APBN sebesar 20 persen lebih. Tidak banyak negara mengalokasikan anggaran sebesar itu, sehinggga Indone­sia mempunyai kesempatan untuk me­ningkatkan kualitas pendidikan se­cara memadai. Lalu, mengapa kualitas pendidikan kita masih terpuruk? Data The Learning Curve Pearson 2014, lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, menempatkan Indonesia di posisi paling bontot.

Dengan indeks -1,84, Indonesia me­nempati posisi ke-40, terendah di Asia Tenggara, di bawah Meksiko, Brasil, Argentina, dan Kolombia. Pada 2012, UNESCO menempatkan kita di peringkat ke-64 dari 120 negara berdasarkan penilaian Education Deve­lopment Index atau Indeks Pem­ba­ngunan Pendidikan. Sementara anggaran pendidikan dalam APBN dari ta­hun ke tahun naik hingga 20 persen le­bih. Tahun ini naik 7,5 persen dari Rp 345,3 triliun menjadi Rp 371,2 triliun atau 20,67 persen.

Sebelum 2009, Pemerintah enggan merealisasikan minimum 20 persen anggaran untuk pendidikan. Bisa dimaklumi, mengingat anggaran pendidikan sebagaimana Pasal 49 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Ta­hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tidak termasuk gaji pendidik. Negara butuh ratusan triliun rupiah lagi, mengingat gaji pendidikan me­nyedot ratusan triliun per tahun. Jika ditambah alokasi 20 per­sen, total anggaran pendidikan sedikitnya 30 persen dari APBN.

Pemerintah akhirnya lega, setelah pada awal 2008  Mahkamah Kons­ti­tusi mengabulkan uji materi Pasal 49 Ayat 1 itu. MK berpendapat, gaji pendidik seharusnya masuk kom­ponen sistem pendidikan nasional, sebagaimana Pasal 1 angka 3 UU Sisdiknas. Ke­putusan itu meru­pa­kan berkah sekaligus musibah. Mu­lai 2009, anggaran pendidikan melonjak menjadi 20 per­sen dari 9 per­sen. Namun tanpa disadari, hal itu merugikan pembangunan pendidikan secara kesuluruhan.

Realitasnya, dari 20 persen alo­kasi APBN, 70 persen habis untuk gaji pendidik yang diperbesar oleh me­ningkatnya dana sertifikasi guru dan berbagai tunjangan. Akibatnya, dana operasional pendidikan minim. Pada­hal kita butuh dana besar untuk pe­ning­katan mutu infrastuktur, sarana pra­sarana — ratusan ribu sekolah ru­sak —, pemerataan dan komitmen membantu sekolah swasta. Semen­tara peningkatan mutu pengajaran terkendala rendahnya mutu dan per­sebaran guru.

Politik anggaran semu ini perlu diubah untuk menjamin peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu, dana besar mutlak butuh pengawasan profesional, independen, dan akuntabel agar tepat sasaran, efektif-efisien, dan menekan kebocoran. Ke depan kita berharap anggaran pendidikan bukan retorika politik, pencintraan, berorientasi jangka pendek dan ajang tawar-menawar. Kehebohan ini sejatinya jauh dari idealisme dan semangat un­tuk mewujudkan pendidikan berkualitas.

Sumber :  http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/07/12/267172/Anggaran-Semu-Pendidikan

19 Juli 2014 - Posted by | ARTIKEL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: