KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

KPU Didesak Ungkap Motif Pelaku


SUARA MERDEKA – Selasa, 15 Juli 2014

  • Kejanggalan Formulir C1 Terus Terjadi

image
SM/dok Said Salahudin

JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) didesak segera mengungkap kejanggalan dan motif pelaku dugaan manipulasi formulir C1 yang terjadi di sejumlah daerah.

Siapa pun dan apa pun motif pelaku harus diketahui oleh publik. KPU dan Bawaslu diminta segera menemukan mereka dan menjatuhkan sanksi berat jika terbukti bersalah. ”Sepanjang KPU dan Bawaslu belum bisa mengungkap pelaku, maka sepanjang itu pula masyarakat akan mempunyai penilaian mereka masing-masing.

Itu bisa menciptakan suasana yang tidak kondusif,” kata pengamat pemilu yang juga Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Indonesia Said Salahudin, Senin (14/7).

Kejanggalan formulir C1 yang termuat dan bisa dibaca di laman KPU, https:// pemilu2014. kpu.go.id/c1.php, terus terjadi. Yang terbaru, 17 form C1 di 17 tempat pemungutan suara (TPS) di Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, Sampang, Jawa Timur, tidak disertai tanda tangan saksi. Di 17 TPS tersebut, rata-rata pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang telak.

Bahkan di 17 TPS tersebut pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla tak mendapatkan satu suara pun, alias tak ada yang memilih. Di TPS 1 misalnya, Prabowo-Hatta mendapat 445 suara, sedangkan Jokowi-JK 0 (nol) suara. Hal yang sama terjadi di TPS 2. Prabowo-Hatta mendapat 499 suara, Jokowi-JK nol.

Selain salah angka atau jumlah suara sah, ada juga data di formulir C1 yang dihapus menggunakan tip-ex (penghapus bolpoin). Peristiwa ini terjadi di TPS 4 Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, Jawa Timur. Di TPS tersebut Prabowo- Hatta mendapat 400 suara, Jokowi- JK 5 suara. Namun dalam kolom perolehan suara, pada jumlah suara sah ada bekas tanda dihapus atau diedit menggunakan tip-ex.

Menurut Said, kejanggalan formulir C1 yang diunggah oleh KPU bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, kesengajaan penyelenggara pemnungutan suara untuk berbuat curang. Boleh jadi itu dilakukan karena sang petugas telah menerima imbalan atau janji kompensasi dari pihak tertentu atau karena secara personal merupakan pendukung salah satu pasangan capres-cawapres.

Kedua, lanjut dia, boleh jadi kejanggalan itu tidak benarbenar dilakukan oleh petugas KPPS, melainkan oleh pihak tertentu yang bertujuan mengganggu pemilu. Pihak tersebut mungkin sengaja mengubah perolehan suara pada formulir C1 yang sudah dibuat secara benar oleh KPPS sebelum data dikirim ke KPU pusat. ”Sejauh ini kan kita belum benar-benar mengetahui siapa pelakunya,” kata Said. Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Rumadi mengatakan, memublikasikan formulir C1 merupakan langkah transparansi hasil pemilu yang layak didukung.

Sebab, kecurangan hasil pemilu, termasuk pilpres, selalu berawal dari formulir C1 yang selama ini sulit diakses publik. Namun demikian, bukan berarti persoalan selesai. Potensi kecurangan tetap ada. ”Sebelum pengumuman akhir pada 22 Juli segala bentuk perbedaan data harus terklarifikasi agar tidak menjadi bom waktu. Masalah besar akan muncul karena masalah-masalah kecil tidak ditangani dengan baik dan tuntas,” tegasnya.

Harus Fair

KPU menyatakan, formulir C1 yang di-scan dan diunggah ke laman KPU adalah hasil yang telah diplenokan. Namun KPU mengingatkan bahwa tampilan scan C1 itu belum merupakan data final tingkat nasional. ”Data tersebut dapat berubah sesuai dengan hasil rapat pleno pada tingkat di atasnya atau pada rapat pleno tingkat pusat,” tulis KPU dalam situsnya, kemarin. KPU tak membantah dan menerima masukan terkait form C1 yang janggal.

Namun, masyarakat juga harus fair. KPU mengklaim kesalahan yang ditemukan itu sangat sedikit dibanding yang sudah terunggah. Kejanggalan yang terjadi belum pasti akibat kecurangan petugas. Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay mengatakan, jumlah C1 yang ter-upload hingga kemarin lebih dari 90 persen. ”Jadi sudah ada 300 ribu lebih formulir C1 dan sebagian besar benar,” ujarnya. Menurut dia, data yang salah dikoreksi pada tahapan rekapitulasi di atasnya. Ia mencontohkan kasus di TPS 047 Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang, Banten.

Dalam formulir C1 tertulis perolehan suara pasangan nomor urut 1 sebanyak 014 dan nomor urut 2 sebanyak 366 dengan jumlah 380. Namun karena petugas KPPS membubuhkan huruf silang di atas angka nol, maka yang tampak dalam hasil pindai (scan) formulir tersebut adalah 814, bukan 014. Akibatnya, pendukung pasangan nomor urut 2 menduga ada kecurangan oleh petugas dengan menggelembungkan perolehan suara pasangan nomor urut 1.

Hadar bersama dua komisioner KPU lainnya, Juri Ardiantoro dan Ferry Kurnia Rizkiyansyah, telah mendatangi Panitia Pemungutan Suara (PPS) setempat untuk melihat langsung formulir C1 tersebut. ”Yang sebenarnya terjadi, petugas (KPPS) menambahkan tanda cross atau silang ke angka nol yang dia tulis di formulir tersebut, sehingga tampak seperti angka delapan. Padahal kalau dilihat secara langsung tidak.

Jumlah perolehan suara juga benar, jadi tidak ada unsur kesengajaan atau kecurangan,” ungkapnya. Dia menjelaskan, penambahan tanda silang yang menumpuk pada angka nol tersebut dilakukan karena petugas KPPS merasa keliru jika menulis bilangan nol di depan bilangan puluhan perolehan angka pasangan calon.

Ia meminta masyarakat memahami bahwa kekeliruan itu bisa saja karena petugas kurang paham atau memang murni kesalahan manusia dalam memproses perolehan suara. ”Kuncinya adalah jumlah pemilih yang hadir harus sama dengan jumlah surat suara yang digunakan, serta harus sama dengan jumlah suara sah dan tidak sah,” tegasnya. (F4, ant,dtc-59)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/07/15/267455

16 Juli 2014 - Posted by | BERITA POLITIK DAN BERITA UMUM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: