KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Istimewa, Rina Tidak Ditahan


  • Padahal Kasusnya Sudah Mau Disidangkan

JTG 1407 Hal 01.indd

 

SEMARANG – Setelah mangkir, mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani Sriratnaningsih kemarin memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah. Tersangka kasus dugaan pencucian uang dan korupsi proyek Griya Lawu Asri (GLA) itu diperiksa selama lima jam. Tetapi Rina belum ditahan juga. Kenapa? Kata Kejati, karena Rina minta untuk tidak ditahan. Haah?!

Rina datang bersama tim Kuasa Hukumnya mengendarai mobil Kijang Innova B1695AS warna hitam pukul 09.30 di Kejati Jln Pahlawan Semarang. Hingga pukul 14.30, Rina baru keluar dari ruangan penyidik. Rombongan Rina langsung menuju tempat parkir mobil. Ditanya wartawan yang menunggunya Rina hanya senyum-senym. Dia tidak memberikan komentar apapun. 

“Kami hanya sekedar memenuhu persyaratan administrasi saja. Karena kita puasa, kalian (wartawan. red) juga puasa kan. Bukannya no komen. Normatif saja. Yang lainnya tanya Kejati,” kata salah satu Kuasa Hukum Rina, M Taufik.

Usai menyampaikan kalimat singkat tersebut, Rina dan tim Kuasa Hukumnya masuk mobil semua. Rombongan tersebut keluar kantor Kejati Jateng tanpa pengawalan. Rina ngacir meningglkan Kejati. Wartawan yang menduga dia akan ditahan gigit jari.

Pekan sebelumnya, Senin (7/7)  mantan orang nomor satu di Karanganyar itu sempat mangkir dari penggilan penyidik. Harusnya, ia datang ke kantor Kejati Jateng untuk pelimpahan tahap dua. Kejati kala itu sesumbar Rina akan dilimpahkan ke Kejari Karangnyar untuk segera disidang. Tetapi Rina tidak datang dengan alasan sakit.

Asisten Intelejen Kejati Jateng Yacob Hendrik melalui Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jateng, Eko Suwarni, mengatakan berkas perkara atas tersangka Rina sudah dinyatakan lengkap atau P21. Untuk itu, perkara ini dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Karanganyar.

“Langsung dilimpahkan hari ini juga (kemarin. red). Jaksa Penuntut Umum dari sana. Tersangka mau ditahan apa enggak, Kejari ada alasan sendiri,” kata Eko saat ditemui di kantornya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dipilih dari Kejari Karanganyar dan Kejati Jateng. Hal itu supaya mempermudah administrasi. “Sementara tim JPU ada lima orang,” tuturnya.

Selain itu, kata Eko, tim Kuasa Hukum Rina juga telah menyampaikan permohonan supaya Rina tidak ditahan. Surat tersebut diserahkan saat diperiksa, kemarin, Senin 14 juli 2014. “Alasannya kuat. Kooperatif. Tidak akan melarikan diri. Sudah dicekal. Dan secara KUHAP, JPU berhak menentukan apakah tersangka ditahan apa enggak. Itu memang diperbolehkan.”

Dijelaskan Eko, perkara ini segera dilimpahkan ke Pengadilan. Ketentuannya 20 hari ke depan harus sudah dilimpahkan. “Intinya secepatnya. Kalau dilimpahkan itu sudah ada rencana dakwaan. Tinggl melimpahkan ke tuntutan, berkas dibenai saja,” terangnya.

Kemarin Rina didatangkan ke Kejati Jateng untuk melengkapi pemriksaan. Penyidik membutuhkan konfirmasi ulang terkait semua berkas yang hendak dilimpahkan yang oleh kubu Rina dituduh palsu.

Ditanya kenapa Rina kala itu mangkir, Eko menjelaskan alasannya sakit. “Sakit usus. Pencernaan atau apa. Pokoknnya daerah usus,” tukasnya.

Tersangka Rina Iriani sempat melaporkan penyidik Kejati Jateng ke Polda Jateng dengan kasus pidana umum. Hal itu terkait dugaan pemalsuan surat yang dijadikan barang bukti oleh penyidik.

Surat tersebut adalah surat rekomendasi Rina ke Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Kejati mengakui hanya mendapatkan salinan surat berbentuk fotocopy. Tetapi menurut penyidik, surat itu sudah cukup dijadikan bukti.

Rina ditetapkan tersangka pencucian uang dan korupsi proyek perumahaan bersubsidi. Aset dan harta bendaya sudah disita.  Kasus GLA merugikan keuangan negara sebesar Rp 18.671.339.532. Dana itu mengalir ke Tony (mantan suami Rina) Rp 3.041.544.200, Rina Iriani Sri Ratnaningsih Rp 11.130.998.000 dan Handoko Mulyono Rp 370.000.000.

Rina berperan merekomendasikan Koperasi Serba Usaha (KSU) Sejahtera dalam penyaluran subsidi program Kementrian Perumahan Rakyat. Rekomendasi ke KSU sejahtera itu tanpa verifikasi dan rekomendasi Dinas Koperasi setempat.

Proyek GLA terletak di Desa Jerukswawit, Gondangrejo, Karanganyar. Proyek dari Kemenpera untuk membangun 1.263 unit rumah bersubsidi. Pelaksana proyek adalah KSU Sejahtera.

Usulan atas proyek dibuat tahun 2007, agar KSU Sejahtera dipilih sebagai lembaga keuangan non-bank penyalur subsidi Kemenpera. Berdasar surat Bupati Rina, Kemenpera mengucurkan dana Rp 15,7 miliar pada 2007 dan Rp 20 miliar pada 2008. Pada 2007, KSU Sejahtera diketuai oleh Fransiska Riyana Sari dan 2008 oleh Handoko Mulyono. Tony telah dipidana lima tahun 10 bulan penjara, Fransiska dipidana dua tahun penjara dan Handoko empat tahun. (ris)

Sumber : http://www.patiekspres.co/2014/07/istimewa-rina-tidak-ditahan/

16 Juli 2014 - Posted by | KARANGANYAR

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: