KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Pondok Pesantren Kauman Lasem Rembang Hidup Mesra di Tengah Kampung Tionghoa


SUARA MERDEKA – Minggu, 06 Juli 2014

”TIDAK masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya,”  sabda Rasulullah saw tersebut selalu ditanam­kan KH Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim), pada santri-santrinya di Pondok Pe­santren Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Sebab menurut cucu KH Ma’s­hoem Ahmad, pendiri Pondok Al Hidayat Lasem, memuliakan te­tangga merupakan salah satu ciri orang beriman. Jika ada tetangga yang tidak merasa aman dengan kehadiran kita, berarti kita sendiri yang bermasalah.

”Dengan memuliakan tetangga, satu pintu surga terbuka bagi kita,” katanya.

Bahkan saking pentingnya posisi tetangga, lanjut dia, Rasulullah saw bersabda ”Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga, sehingga aku menduga bahwa ia akan memberi warisan kepadanya”.

Kunci memuliakan tetangga telah menjadikan pondok pesan­tren yang dirintis tahun 2003 itu bisa diterima di tengah-tengah perkampungan Tionghoa Desa Karangturi.

Ketika Pondok Pe­santren hendak berdiri pun, ia bertandang ke satu persatu rumah tetangga yang seluruhnya warga Tionghoa. Penerimaan secara baik-baik pun ditunjukkan warga.

Hari ini pondok pesantren Kauman, Lasem, Rembang akan men­jadi tuan rumah pelaksanaan Ge­rakan Santri Menulis (GSM) Sa­rasehan Jurnalistik Ramadan 2014 Suara Merdeka.

Tanpa Sekat

Menurut Abdullah, salah satu panitia, peserta sarasehan tidak hanya santri Kauman tetapi juga dari berbagai pondok di Rembang.

”Mereka antusias mengikuti sarasehan karena berharap mendapat bekal menjadi penulis pemula,” katanya.

Menurut Gus Zaim, santri dido­rong untuk berbaur tanpa sekat, dengan tetap menghormati ke­yakinan masing-masing. Gus Zaim pun membiarkan kediamannya yang dibeli dari seorang Tionghoa, tetap berarsitektur seperti aslinya. Bahkan ketika ada yang memberi lampion dan pernak-pernik lampion khas China, dengan senang hati ditempelkannya di depan rumahnya.

Bahkan untuk menghormati warga setempat, sebuah pos ronda berarsitektur mirip kelenteng dibuat tak jauh dari bangunan pondok. Tak dinyana, pos ronda yang dicat dengan warna merah me­nyala, warna khas China, kini menjadi tempat berinteraksi warga multietnis di kampung itu.

Salah satu cara memuliakan tetangga lainnya, Gus Zaim tak segan mengutus santrinya untuk pergi takziah jika ada tetangga pondok (warga Tionghoa) me­ninggal dunia. ”Inti takziah itu kan ngle­rem ati (membesarkan hati) keluarga yang ditinggalkan. Sebagai tetangga kita punya kewajiban itu,” jelasnya.

Upaya menjunjung nilai toleransi bertetangga itu, di kemudian hari, justru menjadikan sejumlah warga setempat memilih menjadi muallaf dengan memeluk Islam.

”Pembauran itu tak lantas me­mengaruhi kehidupan satu sama lain, tetapi saling melengkapi. Inilah yang menjadikan warga Tiong­hoa dan pribumi muslim di La­sem tetap rukun dan hidup damai,” jelasnya. (Saiful Annas-36)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/07/06/266494

12 Juli 2014 - Posted by | BERITA POLITIK DAN BERITA UMUM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: