KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

BPK Ungkap Empat Penyimpangan Proyek Hambalang


SUARA MERDEKA – Rabu, 04 Juni 2014

JAKARTA – Auditor BPK (Ketua Tim Senior) Andi Rahmat Zubaidi mengungkapkan empat kejanggalan dalam proyek pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor yang nilai proyeknya mencapai Rp 2,5 triliun tersebut.

Menurutnya, penyimpangan itu terindikasi dalam tahap perencanaan, anggaran kontrak tahun jamak yang tidak memenuhi persyaratan, penyimpangan pembayaran, dan pelaksanaan pekerjaan. Akibat penyimpangan tersebut, negara mengalami kerugian sekitar Rp 464,514 miliar. Andi mengungkapkan hal itu dalam persidangan untuk terdakwa Teuku Bagus M Noor di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (3/6).

Agenda sidang adalah mendengarkan pendapat ahli. Tiga ahli yang dihadirkan adalah Direktur Kebijakan Pengadaan Umum Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Setya Budi Arijanta, Auditor BPK (Ketua Tim Senior) Andi Rahmat Zubaidi, serta Direktur Pusat Kajian Negara dan Daerah Universitas Patria Artha Makassar Siswo Sujanto. Sengaja Diatur ’’Kerugian negara berdasarkan uang yang keluar dari kas negara, APBN, untuk proyek tersebut. Adapun pihak yang menerima uang adalah kontraktor manajemen konstruksi, konsultan perencana dan pelaksana konstruksi,’’ujar Andi Rahmat.

Dia mengatakan, terjadinya penyimpangan ini berdasarkan aspek formal dan teknis, misalnya tidak dilakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Andi menilai, dalam proyek itu tidak ada yang memenuhi syarat kontrak tahun jamak yang ditetapkan dalam aspek formal tersebut. Selain itu, lelang kontraktor sengaja diatur untuk memenangkan rekanan tertentu. ’’Sampai sekarang, terakhir kontrak tahun 2012, proyek belum selesai, artinya belum memberi manfaat apa pun.’’ Dari aspek teknis, diabaikannya pendapat ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM terkait struktur tanah yang labil. ’’Tanah di situ mudah longsor karena itu harusnya dilakukan penanganan teknis agar bangunan yang dibangun tidak runtuh,’’ tambah Andi.

Dalam kasus ini, Teuku Bagus selaku Direktur Operasional Adhi Karya, didakwa melawan hukum dengan mengalihkan subkontrak pekerjaan utama ke sejumlah perusahaan. Atas perbuatannya, Teuku dianggap memperkaya diri sendiri sebesar Rp 4,53 miliar dari proyek Hambalang yang dikerjakan kerja sama operasi (KSO) Adhi Karya-Wijaya Karya.(D3-25)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/04/263394

2 Juli 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: