KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Memprihatinkan, Banyak Koruptor Buron


SUARA MERDEKA – Senin, 30 Juni 2014

TAJUK RENCANA

Terpidana korupsi yang menghindari eksekusi ternyata masih banyak. Sampai saat ini ada 28 koruptor di Jateng yang belum dieksekusi. Mereka masih melenggang bebas, belum terjamah hotel prodeo. Jumlah koruptor yang buron di luar kasus korupsi di Jateng juga lebih banyak lagi. Koruptor-koruptor buron itu ibarat merupakan pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Aparat hukum harus bekerja lebih keras lagi.

Koruptor-koruptor buron yang tidak kunjung tertangkap bakal menimbulkan pertanyaan besar di pihak masyarakat atas kinerja Kejati dan aparat hukum lainnya. Upaya pemberantasan akan sulit mencapai target apabila tahap eksekusi meleset akibat para terpidana korupsi bisa leluasa buron. Dengan kenyataan masih banyak koruptor buron, sangat wajar apabila masyarakat mempertanyakan bahkan menggugat kinerja aparat yang terkesan setengah-setengah.

Kita tidak menutup mata bahwa koruptor buron tidak dibiarkan begitu saja melenggang bebas menghindari eksekusi. Kejati Jateng misalnya, pada periode Agustus 2013 sampai Mei 2014 telah menangkap 20 buron koruptor. Kita mencatat penangkapan koruptor buron itu sebagai prestasi aparat penegakan hukum, tetapi harus dikatakan bahwa prestasi itu saja belum cukup. Proses hukum terhadap koruptor wajib dilakukan secara total 100 persen tanpa terkecuali.

Persoalan koruptor buron tidak hanya sebatas di wilayah Jawa Tengah. Di lingkup nasional, koruptor buron masih menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan sesegera mungkin. Fenomena koruptor buron merupakan cermin ketidakberdayaan hukum atas kejahatan korupsi. Ketidakberdayaan itu muncul dari berbagai sisi, mulai dari sisi aparat, mekanisme, sistem hukum, perjanjian ekstradisi, dan kemampuan membangun jaringan global antikorupsi.

Banyak koruptor buron menyembunyikan diri di negara-negara yang secara hukum ‘’tidak terjangkau’’. Singapura termasuk salah satu ‘’surga’’ bagi koruptor asal Indonesia. Selain sebagai tempat parkir uang korupsi dan tempat pelarian bagi koruptor, Singapura juga menjadi tujuan favorit koruptor untuk melakukan transaksi korupsi. Singapura memang belum meneken Konvensi PBB Antikorupsi, khususnya mengenai pencucian uang dan ekstradisi koruptor.

Upaya pemberantasan korupsi dengan demikian menuntut kerja keras semua lini dan sektor, bahkan mencakup pula jejaring dan hukum internasional agar tertutup rapat celah-celah bagi koruptor buron. Sektor imigrasi tentu termasuk vital karena merupakan pagar pengaman terakhir terhadap koruptor buron. Diper­kira­kan, uang hasil korupsi yang diparkir di Singapura mencapai Rp 1,8 triliun. Kegagalan eksekusi akan mele­mahkan pemberantasan korupsi.

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/30/265981

Iklan

30 Juni 2014 - Posted by | ARTIKEL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: