KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Janji Potong Jari Malah Korupsi


PATI EKSPRES – Selasa, 17 Juni 2014

  • Dituntut Seumur Hidup, Akil Tua di Tahanan

JAKARTA – Jaksa KPK penuhi janjinya. Akil Mochtar, tersangka kasus suap sengketa pilkada terancam menghabiskan hidupnya dijeruji penjara. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu akhirnya dituntut seumur hidup dan denda Rp 10 miliar.

Para penyuap Akil pun satu -persatu juga mulai ditetapkan sebagai tersangka. Usai tuntutan dibacakan, Akil tak bisa menutupi raut emosionalnya. Tuntutan yang menjadi rekor tertinggi KPK itu membuat nyalinya ciut.  Padahal pekan lalu dia sesumbar Akil mengaku siap dihukum mati. Sikap emosional pria asal Kalimantan Barat itu semakin menjadi-jadi saat melayani pertanyaan awak media usai persidangan. “Tuntutan ini tidak sesuai dengan fakta yang ada selama persidangan. Ini terlalu berat,” katanya.

“Lah, katanya bapak siap dihukum mati?” tanya pewarta berebut. Sontak pertanyaan itu membuat Akil naik pitam. Dengan lantang dan kasar, pria yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI itu mengumpat. “Ah, tahi sama kaulah,” katanya lalu berjalan menerobos kerumunan wartawan.

Sikap emosi Akil sebenarnya sudah dia tunjukkan saat pertama kali memasuki ruang persidangan. Tak lama setelah namanya disebut hakim untuk dihadirkan di ruang sidang, Akil masuk ruangan dengan menunjukkan selembar koran yang memuat berita tuntutan dirinya. “Buat apa ada sidang. Toh hasil tuntutan kepada saya sudah dimuat banyak media massa hari ini (kemarin). Saya tidak tahu apakah ini etis. Yang jelas pimpinan KPK seharusnya tidak melakukan ini,” katanya tegas.

Bahkan, dia sempat meminta JPU tak membacakan rincian sidang yang dimuat dalam lebih dari 2100 halaman. “Bacakan saja putusannya. Dari pada kita mengikuti sidang ini 2 – 3 jam. Hasilnya saya sudah tahu kok,” ujar Akil emosi. Namun, majelis hakim yang dipimpin oleh Suwidya menolak permintaan itu dan tetap menginginkan sidang berjalan sebagaimana mestinya. “Cuma tolong kepada jaksa, baca yang penting dan jangan melakukan pengulangan,” katanya.

Sementara itu, jaksa mengaku tuntuan kepada Akil sudah sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Beberapa poin pemberat penting yang disampaikan oleh jaksa dalam sidang kemarin adalah Akil tidak menunjukkan itikad baik memberantas korupsi. Padahal, yang bersangkutan merupakan orang yang sangat mengerti hukum. Itu tidak lepas dari pengalaman dan latar belakang keilmuan pria yang diduga memiliki dua istri tersebut.

Bahkan, untuk mencontohkan betapa bobroknya mental hukum Akil, jaksa sampai menyidir yang bersangkutan dengan janjinya dulu, yang akan menerapkan hukuman potong jari bagi koruptor. “Tentu publik masih ingat apa yang diucapkan terdakwa di MK pada 9 Maret 2012. Yang menyatakan, ini ide saya, dibandingkan dihukum mati lebih baik kombinasikan pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja. Itu sudah cukup,” kata Jaksa KPK Pulung Rinandoro menirukan ucapan Akil ketika itu.

Selain itu, Akil selaku ketua MK harusnya memiliki integritas yang tinggi. Karena dia adalah benteng terakhir dalam penegakan hukum konstitusi. Bukan malah terlibat dalam kasus korupsi dan suap seperti saat ini. Apalagi, jabatan Ketua MK memiliki fungsi dan kewenangan yang cukup besar terkait konstitusi dan hajat hidup orang banyak. “Pada kenyataannya terdakwa malah melakukan pengkhianatan dan penyalahgunaan atas amanah yang telah diberikan pada dirinya, dengan melegalkan praktek suap menyuap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang dari hasil kejahatan yang dilakukan,” katanya.

Karena perbuatannya itu pulalah masyarakat akhirnya kehilangan kepercayaan diri pada lembaga tinggi negara. Tak hanya mengucapkan faktor pemberat, jaksa juga menyampaikan faktor yang meringankan Akil selama menjadi tersangka kasus ini. Namun, faktor tersebut nihil. “Faktor yang memberatkan sudah saya sebut diatas, sedangkan yang meringankan tidak ada,” kata jaksa.

Tidak adanya faktor keringanan itu pula yang akhirnya membuat Akil mencak-mencak. “Masak sama sekali tidak ada yang meringankan. Ya, setidaknya saya ini kan manusia. Punya tanggung jawab kepada keluarga,” kata pria yang juga dituntut hak memilih dan dipilihnya dicabut.

Mulai Tersangka
Pada bagian lain, meski belum diputus bersalah, KPK mulai satu persatu menetapkan para penyuap Akil sebagai tersangka. Upaya itu kemarin dilakukan dengan menetapkan Walikota Palembang Romi Herton dan istrinya Masyito sebagai tersangka.

Keduanya dianggap melakukan penyuapan terhadap Akil Mochtar dan memberikan keterangan palsu di persidangan. Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, setelah melakukan pengembangan atas kasus dugaan korupsi sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi, penyidik menemukan dua alat bukti permulaan yang cukup. Sehingga disimpulkan telah terjadi dugaan korupsi pada sengketa Pilkada Palembang di Mahkamah Konstitusi. “Untuk itu KPK menetepkan RH (Romi Herton) dan M (Masyito) sebagai tersangka,” ujar Johan.

Keduanya disangka melanggar pasal 6 ayat 1 huruf a UU No 20/2001, jo pasal 64 ayat 1, jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Selain itu, pasutri tersebut juga melanggar pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 uu 20/2001. Pasal-pasal itu diterapkan karena selain melakukan penyuapan terhadap Akil selaku hakim MK, pasutri tersebut juga dianggap memberikan keterangan palsu dalam persidangan. Perkara Palembang memang satu diantara 11 kasus suap sengketa pilkada yang didakwakan pada Akil Mochtar.

Dalam sengketa Pilkada Palembang, Akil didakwa meminta uang suap Rp 20 miliar, namun hanya diberikan Rp 19,8 miliar oleh Romi Herton. Transaksi penyuapan itu dalam persidangan diketahui melalui perantara orang dekat Akil yakni Muhtar Ependi.

Sidang pembuktian untuk suap sengketa Pilkada Palembang dilakukan beberapa kali dengan memeriksa sejumlah saksi. Pada sidang 28 Maret diketahui Sekda Kota Palembang Ucok Hidayat membawa uang Rp 2 miliar ke Jakarta melalui pesawat terbang. Uang itu ditaruh koper dan terdeteksi petugas keamanan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Saat itu jaksa juga menanyakan ke Romi Herton terkait uang itu. Dia mengatakan uang tersebut untuk kebutuhan mendesak membiayai keperluan sidang sengketa pilkada selama di Jakarta. KPK mencurigai uang itu untuk Akil. Sebab dalam temuan penyidik, uang tersebut lalu dititipkan di BPD Kalbar melalui Muhtar Ependi.

Penitipan uang di BPD Kalbar tersebut diduga dilakukan istri Romi Herton, Masyito. Keterangan itu klop dengan kesaksian beberapa pegawai dan petugas keamanan BPD Kalbar yang menyebutkan Muhtar memang datang bersama perempuan berkerudung saat membawa uang. Saat ditunjukkan foto Masitoh, pegawai BPD Kalbar menyatakan wajah itu mirip dengan perempuan yang datang bersama Muhtar. Masitoh sendiri menyangkal mengenal Muhtar dan tidak pernah ke BPD Kalbar.

Romi juga mengaku tidak kenal Muhtar. Padahal, KPK memiliki bukti surat penagihan pembuatan atribut pilkada dari Muhtar ke Romi. KPK juga menemukan nama Muhtar MK di ponsel Romi. Wali Kota Palembang itu justru balik curiga pada KPK karena ponselnya selama ini disita penyidik. Johan Budi mengungkapkan kasus ini tidak berhenti hanya sampai Romi dan Masyito. “Saat ini yang baru diumumkan memang hanya penetepan RH dan M sebagai tersangka. Tapi tidak berarti berhenti pada keduanya,” ujar Johan.

Seluruh kepala daerah dan perantaranya memang pernah dihadirkan dalam sidang Akil. Termasuk sejumlah orang yang diduga terlibat upaya penyuapan untuk sengketa Pilgub Jatim. Dalam kasus Pilgub Jatim itu jaksa menghadirkan Setyo Novanto, Idrus Marham dan Zainudin Amali.

Ketika dihadirkan dalam sidang, ketiga politisi Partai Golkar itu dicecar terus terkait upaya pemberian suap pada Akil. Dalam dakwaan, Akil memang disebutkan meminta Rp 10 miliar pada Zainudin Amali agar pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf dibantu di sengketa Pilgub Jatim. Permintaan itu disanggupi namun batal diserahkan karena Akil keburu ditangkap KPK saat menerima pemberian untuk Pilkada Gunung Mas. (nji/gun/jpnn)

Sumber : http://m.patiekspres.co/2014/06/janji-potong-jari-malah-korupsi/

30 Juni 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: