KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Anas Merasa Didakwa Nazar


SUARA MERDEKA – Sabtu, 07 Juni 2014

Anas Merasa Didakwa Nazar

image
SM/Antara NOTA KEBERATAN: Terdakwa kasus gratifikasi proyek Hambalang Anas Urbaningrum menutup mulut saat membacakan nota keberatan (eksepsi) atas surat dakwaan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (6/5).(30)

JAKARTA – Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum tetap tidak memahami substansi dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus korupsi proyek Hambalang dan atau proyek-proyek lainnya.

“Termasuk dalil-dalilnya,” kata Anas saat menyampaikan eksepsi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (6/6). Bahkan Anas menyebut dakwaan itu seperti disusun oleh bekas koleganya, mantan Bendahara Demokrat Muhammad Nazaruddin.

“Surat dakwaan telah disusun sebaikbaiknya, namun dengan segala hormat, ini bukan dakwaan JPU, namun dakwaan dari Nazaruddin, baik TPK (tindak pidana korupsi) maupun TPPU (tindak pidana pencucian uang),” kata Anas. Ia menggambarkan jaksa KPK dalam menyusun dakwaan seperti penjahit yang andal dalam menciptakan jahitan yang menarik. “Tapi bahannya yang asli hanya sebagian dan tidak nyaman untuk digunakan,” ujar dia.

Mendesak Mundur

Anas mengaku telah berkali-kali membaca dakwaan jaksa. Ia membaca secara lengkap dakwaan tersebut. Tidak ada satu pun kalimat yang terlewatkan. Namun, Anas mengaku tetap tidak memahami maksud dakwaan tersebut.

“Saya bisa mengerti kata demi kata dan kalimat demi kalimat. Akan tetapi saya tidak berhasil memahami substansinya,” tutur Anas yang mengenakan kemeja putih. Dia lagi-lagi menyebut dakwaan KPK imajiner dan mengada- ngada. “Sebuah dakwaan yang diantar dengan kalimat imajiner, kalau tidak disebut sebagai fitnah semata. Karena diawali dengan kalimat imajiner, maka selanjutnya adalah sambung menyambung kalimat imajiner.”

Dia juga menyebut penetapan statusnya sebagai tersangka berbau setting-an. Apalagi saat itu Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba memintanya fokus menjalani proses hukum. ”Termasuk mendesak saya untuk mundur sebagai ketua umum Demokrat,” ucapnya.

Suami Athiyyah Laila itu juga menegaskan tidak pernah meminta Nazaruddin mundur dari proyek Hambalang agar proyek tersebut dimenangi PT Adhi Karya. Soal gratifikasi berupa mobil Harrier dari PT Adhi Karya, Anas menyatakan, kendaraan tersebut dia beli sendiri saat menjadi anggota DPR.

Dia membantah hadir dalam pertemuan di Restoran China, Pacific Place, September 2009. Dalam pertemuan tersebut, menurut dakwaan jaksa, dibahas proyek Hambalang yang akan dipegang oleh PT Adhi Karya. Selain Anas, menurut dakwaan jaksa, hadir dalam pertemuan tersebut Nazaruddin, Teuku Bagus M Noor, Mahfud Suroso, dan Munadi Herlambang.

Teuku Bagus yang merupakan petinggi Adhi Karya menanyakan kepada Anas ingin diberi mobil apa. Menurut dakwaan, Anas saat itu menjawab ”Ya sudah atur saja.” Selanjutnya, Nazar memerintahkan pegawainya, Yulianis, untuk mencatat mengenai perlunya pembelian mobil Toyota Harrier untuk Anas yang sumber dananya dari tanda jadi proyek Hambalang. Menanggapi eksepsi Anas, KPK mengingatkan terdakwa agar menghormati proses hukum. KPK tetap yakin Anas bersalah berdasarkan buktibukti kuat yang telah dikantongi.

”Ketika membawa perkara ini ke pengadilan, artinya yang dibawa KPK tak hanya dua alat bukti yang cukup, tapi juga bukti-bukti yang lain cukup kuat. Kalau KPK tidak yakin, tentu kasus ini tidak sampai ke pengadilan,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi. Menurut Johan, hal yang lumrah jika seorang terdakwa menolak semua tuduhan jaksa.

KPK tetap melanjutkan proses hukum dan yakin dakwaan tersebut dapat dibuktikan di pengadilan. ”Yang bisa menilai dakwaan itu imajiner atau tidak kan hakim. Jadi, mari kita bersama-sama, saya imbau terdakwa, hormati proses hukum,” ujarnya. KPK mendakwa Anas menerima gratifikasi berupa Toyota Vellfire, Harrier, dan uang lebih dari Rp 100 miliar. Anas juga didakwa melakukan pencucian uang. (D3,dtc-59)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/07/263692

Iklan

25 Juni 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: