KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Akil Siap Dihukum Mati


SUARA MERDEKA – Jum’at, 13 Juni 2014

Akil Siap Dihukum Mati

image
SM/AntaraSAKSI ATUT: Akil Mochtar bersaksi dalam sidang untuk terdakwa Atut Chosiyah di Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan, Kamis (12/6). (30)

JAKARTA- Terdakwa penerima dugaan suap dalam pengurusan sengketa Pilkada Lebak, Banten, Akil Mochtar  menyatakan siap menghadapi tuntutan hukuman berat dari jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahkan ia siap dihukum mati jika ada undang-undang yang mengatur seberat itu. ”Saya siap dihukum mati kalau memang ada pasal yang menentukan sampai harus dihukum mati,” kata Akil usai bersaksi dalam sidang dugaan suap dengan terdakwa Gubernur Banten nonaktif  Atut Chosiyah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta kemarin.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu juga mempertanyakan dasar hukum apabila nanti jaksa KPK menuntut hukuman seumur hidup. Akil mengklaim diinya tidak melakukan kesalahan berat. ”Saya kan tidak ambil duit negara. Saya cuma minta dan terima duit dari orang, bukan uang negara yang saya colong,” ujarnya.

Menurut Akil, KPK tidak adil dalam menangani kasus korupsi jika nanti jaksa menuntut dengan hukuman berat hingga seumur hidup. Ia membandingkan penanganan kasus dan tuntutan jaksa KPK terhadapnya, dengan kasus bailout Bank Century. ”Lihat kasus Century saja tidak segitu, terus sampai di mana kasus Century sekarang,” tanyanya.

Dalam sidang kemarin, Akil mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Jaksa Dzakiyul Fikri. Bahkan dia sempat emosi. Pasalnya, jaksa dianggap memposisikan dirinya sebagai terdakwa. Padahal dalam sidang Tipikor ia hanya sebagai saksi untuk terdakwa Gubernur Banten nonaktif Atut Chosiyah. ”Seharusnya saudara menanyakan yang berkaitan dengan terdakwa (Atut). Saya di sini sebagai saksi, bukan terdakwa,” kata Akil dengan nada tinggi sambil mata melotot.

Etika Hakim

Jaksa Dzakiyul Fikri mulai mencecar Akil dengan menanyakan etika hakim pada umumnya dan Hakim Konstitusi khususnya yang seharusnya tidak boleh menemui pihak yang berperkara dalam kasus pemilihan kepala daerah (Pilkada). Jaksa juga meminta penegasan dari Akil terkait  transkrip pembicaraannya dengan salah satu kuasa hukum Amir Hamzah yang menjadi calon bupati Lebak, Susi Tur Handayani. Dalam transkrip diketahui Akil meminta uang Rp 3 miliar agar dapat memenuhi keinginan pemohon.

Akil mengaku kesulitan mengkoordinasikan dengan hakim panel lainnya untuk bisa memutuskan Pilkada Lebak harus diulang. Juga diketahui, Susi menawar agar Akil menurunkan permintaanya menjadi Rp 1 miliar. Akil mengaku, sejumlah pelanggaran dalam Pilkada Lebak, seperti penggalangan PNS dan berbagai kecurangaan serta intimidasi bisa menjadi alasan untuk memutus pemilihan diulang. Akil juga mengakui, perbincangan dengan Atut di Singapura itu terjadi pada September 2013. Saat itu Atut mengatakan, adiknya, Chaeri Wardana alias Wawan akan mengurus sengketa Pilkada Lebak yang ditangani MK. Atut sendiri bisa menerima kesaksian Akil yang berhubungan dengan dirinya. (F4,viva-80)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/13/264321

Iklan

25 Juni 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: