KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Seumur Hidup untuk Akil


SUARA MERDEKA – Selasa, 17 Juni 2014

Seumur Hidup untuk Akil

  • Jaksa Tuntut Hak Pilih Dicabut

image
SM/AntaraDITUNTUT SEUMUR HIDUP: Akil Mochtar menjalani persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/6). (58)

JAKARTA – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi M Akil Mochtar akhirnya dituntut hukuman maksimal, yakni penjara seumur hidup. Ini merupakan rekor tuntutan oleh jaksa penuntut umum KPK dalam kasus tindak pidana korupsi. Selain hukuman penjara, jaksa juga menuntut Akil membayar denda Rp 10 miliar.

Dalam tuntutan yang dibacakan Jaksa Pulung Rinandono tersebut, Akil dijerat dengan Pasal 12 huruf c (tentang penerimaan suap) dan Pasal 11 (tentang penerimaan gratifikasi) UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 3 dan Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Ancaman maksimal pasal tersebut adalah hukuman seumur hidup.

Menurut jaksa, Akil terbukti menerima hadiah atau janji untuk pengurusan 15 sengketa pilkada di MK. Selama menjalankan aksinya, mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar tersebut menerima uang Rp 57,7 miliar dan 500 ribu dolar AS (lebih kurang Rp 5 miliar) dari sejumlah pihak sejak 2010 hingga menjabat ketua MK.

Dalam dakwaan pertama, Akil disebut menerima suap terkait pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah sebesar Rp 3 miliar; Pilkada Lebak, Banten (Rp 1 miliar); Pilkada Kabupaten Empat Lawang, Lampung (Rp 10 miliar dan 500.000 dolar AS); Pilkada Kota Palembang (Rp 19.886.092.800); dan Pilkada Lampung Selatan (Rp 500 juta).

Dalam dakwaan kedua, ia disebut menerima uang terkait sengketa Pilkada Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Rp 1 miliar); Pilkada  Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara (Rp 2.989.000.000); dan Pilkada Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Rp 1,8 miliar). Selain itu, ia juga didakwa menerima janji pemberian Rp 10 miliar terkait keberatan hasil Pilkada Provinsi Jawa Timur.

Pada dakwaan ketiga, Akil disebut meminta Rp 125 juta kepada Wakil Gubernur Papua periode 2006-2011 Alex Hesegem. Pemberian uang itu terkait sengketa Pilkada Kabupaten Merauke, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digoel, Kota Jayapura, dan Kabupaten Nduga. Dalam dakwaan keempat, Akil disebut menerima uang Rp 7,5 miliar dari adik Gubernur Banten Atut Chosiyah, Chaeri Wardana alias Wawan. Pemberian uang itu terkait pengurusan sengketa Pilkada Banten.

Pada bagian lain tuntutan tersebut, Akil juga terbukti melakukan pemerasan dan pencucian uang. Jaksa menilai pencucian uang oleh Akil pada kurun 22 Oktober 2010 hingga 2 Oktober 2013 atau saat ia telah menjadi hakim konstitusi, terbukti. Nilainya mencapai Rp 161,080 miliar. Hasil penelusuran KPK juga membuktikan Akil melakukan pencucian uang Rp 20 miliar sejak menjabat anggota DPR hingga menjadi hakim MK.
Kepada majelis hakim, jaksa juga menuntut agar hak pilih dan memilih Akil dalam pemilu dicabut. Tuntutan serupa pernah diterapkan terhadap mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo, yang kemudian dikabulkan hakim.

Tidak Kaget

Jaksa menganggap tidak satu pun hal yang meringankan Akil, termasuk soal keluarga yang masih menjadi tanggungannya. Pasalnya, menurut KPK,  dalam melakukan pencucian uang, Akil malah menggunakan keluarganya sebagai alat untuk menyamarkan aset. CV Ratu Samagat, perusahaan  yang diatasnamakan Ratu Rita, istri Akil, diduga kuat menjadi tempat mencuci uang hasil korupsi. Jaksa menilai tindak pidana yang dilakukan Akil sangat berat. Korupsi dilakukannya justru pada saat pemerintah tengah giat melakukan upaya pemberantasan kejahatan besar itu.

Hal lain yang memberatkan, Akil adalah ketua MK, lembaga yang menjadi ujung tombak dan benteng pertahanan terakhir bagi masyarakat untuk mencari keadilan konstitusi. Tindakan terdakwa menjatuhkan kewibawaan MK. Selain itu jaksa menilai selama proses persidangan Akil tidak kooperatif dan tidak menyesali perbuatannya.

Atas tuntutan tersebut, Akil menyatakan sangat kecewa. Meski demikian, dia mengaku tidak kaget ataupun heran. “Saya sangat kecewa, karena tidak ada satu pun yang meringankan saya. Tapi saya nggak heran akan dituntut seumur hidup. Koran sudah menulis soal itu,” kata pria berkacamata tersebut sambil memperlihatkan sebuah surat kabar yang memuat berita tentang tuntutan hukuman seumur hidup terhadapnya. (F4-59)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/17/264730

18 Juni 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: