KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

KPK Segel Gedung Kementerian PDT


SUARA MERDEKA – Rabu, 18 Juni 2014

image
SM/Antara DISEGEL KPK: Pegawai berdiri di depan ruangan di lantai 2 Gedung Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Jakarta Pusat, yang disegel KPK, Selasa (17/6). Penyegelan terkait operasi tangkap tangan yang melibatkan Bupati Biak, Papua, Yesaya Sombuk. (30)

JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyegel tiga lantai gedung Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Jakarta, Selasa kemarin. Bagian gedung yang disegel meliputi lantai II, ruang Asdep Sosial Deputi II dan ruangan Program Percepatan Pembangunan Kawasan Terpadu (P2KPT)/Bedah Desa, lantai IV yang mencakup ruang Staf Deputi V dan lantai VII yang mencakup ruang Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT)Helmy Faishal Zaini.

Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmy Faishal Zaini mengaku kaget sejumlah ruang di kantornya disegel penyidik KPK, bukan termasuk ruang kerjanya di lantai VII. Helmy mengatakan, baru mengetahui kabar itu pada pagi hari pukul 08.00.

Setelah itu, dia mengumpulkan para pejabat di Kementerian PDT untuk mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya terjadi. “Kami sendiri sampai detik ini belum tahu persis masalah apa dan bagaimana, dan saya hanya mengikutinya dari beberapa media,” kata Helmy Faishal saat menggelar konferensi pers di kantornya, Selasa (17/6).

Tertangkap

Dia menuturkan, dari informasi yang diperoleh, ada sejumlah pihak yang tertangkap tangan KPK. Salah satunya disebut adalah Bupati Biak Numfor Yasaya Sombuk (YS).

“Saya tidak mengenal bupati, ada beberapa nama saya juga tidak mengenal,” ujarnya. Meski demikian, Helmy yang juga Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu akan menghormati dan mendukung penuh proses hukum yang tengah dilakukan KPK untuk pemberantasan korupsi.

“Kami persilahkan perangkat hukum untuk melakukan langkah-langkah, dan harus seadil-adilnya,” terang Helmy. Kronologi KPK menangkap tangan Bupati Biak Numfor Yasaya Sombuk (YS) dalam kasus dugaan suap dana bantuan pembangunan daerah tertinggal (PDT) di Kabupaten Biak, Papua, Senin malam, (16/6).

“Kemarin malam pukul 21.30, penyidik telah mengamankan enam orang, lokasi kejadian di Hotel Akasia, Matraman,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi. Berdasarkan laporan, kronologis kejadian berawal dari pertemuan antara TM dari pihak swasta dengan Y, yang merupakan kepala dinas bidang penanggulangan bencana di Kabupaten Biak.

Pertemuan itu dilakukan di restoran Hotel Akasia, Matraman. “Kemudian mereka bertemu di salah satu kamar di lantai 7, didapati ada YS (Bupati Biak). Setelah itu baik TM dan Ykeluar dari kamar, kemudian penyidik KPK melakukan penangkapan, kemudian keduanya dibawa ke kamar tersebut didapati Bupati YS,” kata dia.

KPK menyita uang dalam bentuk dolar Singapura senilai Rp 3,6 miliar di dalam kamar hotel. Penyidik mengamankan tas hitam berisi uang dolar Singapura terbagi dari pecahan 10.000 dolar Singapura 1.000 dolar Singapura yang dimasukkan dalam amplop tersebut. Selain ketiganya, sopir TS dan YS, beserta ajudan juga ikut ditangkap. Yasaya dibawa ke dalam kantor KPK Senin malam sekira pukul 23.00.

Tidak Mengenal

Terkait hal itu Helmy Faishal Zaini mengaku tidak mengenal Bupati Biak Numfor Yesaya Sombuk yang diamankan oleh KPK dalam operasi tangkap tangan. “Saya tidak mengenal Pak Bupati ini. Beberapa nama yang disebut juga tidak mengenal,” kata Helmy.

Helmy mengatakan, dia pernah berkunjung ke Kabupaten Biak Numfor saat meresmikan pembangunan air bersih. Karena, Kabupaten yang terletak di daerah Papua itu termasuk kategori daerah tertinggal.

“Waktu saya ke sana bupatinya masih yang lama. Saya meresmikan air bersih di sana,” ujar Helmy. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan KPK memiliki waktu 24 jam untuk menetapkan status terhadap enam orang yang diamankan dalam kasus dugaan suap itu.

Namun, Bambang enggan menjelaskan apakah Menteri PDT Helmy Faishal juga termasuk dalam daftar enam orang yang diamankan KPK atau tidak. Enam orang itu menurut Bambang, tidak semuanya berasal dari Kementerian PDT. “Yang diamankan enam orang. Saya belum bisa buka (nama Helmy termasuk yang diamankan atau tidak),” ujar Bambang.(F4,viva-80)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/18/264778

18 Juni 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: