KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Kejati Tetapkan Empat Tersangka


SUARA MERDEKA – Rabu, 18 Juni 2014

  • Korupsi Lahan UGM

 

YOGYAKARTA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY menetapkan empat tersangka dalam kasus korupsi penjualan aset lahan milik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Keempat tersangka itu seluruhnya merupakan kalangan internal UGM.

Mereka dijerat dengan pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 UU 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. ”Penetapan tersangka dalam kasus ini baru dilakukan beberapa hari lalu. Di antara empat tersangka ada yang bergelar profesor,” ungkap Kasi Penerangan Hukum Kejati DIY Purwanta Sudarmadji, Senin (16/6). Namun saat didesak menyebutkan identitas tersangka, dia menolak.

Alasannya, menurut Purwanta, hal ini demi kepentingan penyidikan. ”Jika saatnya sudah tepat, pasti akan diungkap ke publik. Tunggu saja nanti,” ujarnya. Dalam perkara ini, tim kejaksaan telah memeriksa lebih dari 20 orang. Setelah cukup alat bukti, penyidik kemudian menetapkan empat orang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Namun sejauh ini, belum ada rencana pemanggilan keempat orang itu untuk dimintai keterangan sebagai tersangka. Purwanta juga menegaskan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan penerbitan surat pemberitahuan status tersangka. ”Tidak harus ada surat pemberitahuan karena inti penyidikan itu adalah menemukan alat bukti,” terangnya.

Belum Tahu

Ketika dikonfirmasi wartawan, penasihat hukum Yayasan Fakultas Pertanian Gadjah Mada (Fapertagama), Heru Lestarianto mengaku, belum tahu adanya penetapan tersangka dalam perkara ini. Namun pihaknya menyatakan, siap menjalani semua proses hukum yang berlaku. Sebagaimana diberitakan, munculnya kasus ini bermula dari penjualan lahan oleh Yayasan Fapertagama kepada pengembang senilai Rp 1,2 miliar yang dilakukan dalam kurun 2003-2007.

Nominal itu sesuai laporan yang disampaikan ke kantor pajak. Padahal, dalam kuitansi pembayaran disebutkan nilai jualnya lebih dari Rp 2 miliar. Dari informasi yang dihimpun, lahan itu awalnya dibeli oleh panitia pembangunan gedung UGM pada 1963 dengan harga Rp 1,5 juta per meter persegi.

Selanjutnya tahun 2000, aset tersebut dikuasai oleh yayasan yang pengurus dan anggotanya terdiri atas para dosen Fakultas Pertanian UGM. Menindaklanjuti hasil temuan penyidikan, tim kejaksaan telah menyita aset tanah seluas 4.000 meter persegi di Dusun Plumbon, Desa Banguntapan, Bantul yang kini difungsikan menjadi perumahan.

Selain itu, tim juga menyita sejumlah buku rekening yang terkait dengan proses jual-beli lahan tersebut. Nilai uang yang ada di rekening bank itu diperhitungkan mencapai Rp 2 miliar. Uang hasil penjualan itu sebagian digunakan untuk bisnis yayasan. Sementara sisanya dibagikan ke pengurus yayasan dan disimpan di bank.(J1-52,88)

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/06/17/264617

18 Juni 2014 - Posted by | JOGJA RAYA

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: