KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Arista Minta Audit BPK


RADAR SEMARANG – Rabu, 18 Juni 2014

”Masih dikembangkan, tidak menutup ada tersangka baru. Sementara masih Arista dan suaminya Onang.”

Kombes Pol Djihartono
Kapolrestabes Semarang

Penipuan Investasi Seragam Batik

KETILENG – Kuasa hukum tersangka penipuan senilai Rp 103 miliar, Arista Kurniasari-Yohanes Onang Supotiyo berharap agar Polrestabes Semarang segera melakukan audit ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan menyelesaikan kasus penipuan itu secara transparan. Langkah itu dimaksudkan untuk mengetahui secara detail berapa uang yang sudah masuk ke rekening Arista. Sebab, berdasarkan bukti transfer di rekening Arista selama ini, uang yang masuk dari rekanan pemodal bisnis batik itu hanya sebesar Rp 4,5 miliar.
Kuasa hukum Arista dari Biro Bantuan Hukum Kelompok Pelayanan Sosial (KPS) Semarang, Djoko Dwi Santoso, mengaku kaget dengan adanya laporan jika uang yang masuk ke Arista sebesar Rp 103 miliar. Ia mengungkapkan, kasus ini bermula ketika Arista Kurniasari dan Dwi Handayani Jurito sepakat untuk bisnis alat tulis kantor (ATK) dan seragam batik mulai 2009. Arista bertugas menyuplai dan menyiapkan barang atau batik, sedangkan Dwi bertugas di bagian pembukuan. ”Klien kami (Arista, Red) memang awalnya bekerja sama dengan Dwi. Dari usaha itu, ternyata bisnis batiknya berkembang pesat,” katanya.
Karena itu, Dwi Handayani berinisiatif mencari suntikan modal. Arista lantas menyetujui ajakan dari Dwi, dan akhirnya dicarikan sejumlah orang sebagai pemodal untuk mengembangkan bisnis batik tersebut pada 2010. Arista menyerahkan semua urusan administrasi dan pengurusan permodalan kepada Dwi. Arista sendiri tidak mengetahui siapa pemodal serta berapa uang yang masuk. ”Semua urusan uang masuk dan keluar ditangani Dwi. Jadi, Arista tugasnya hanya mengadakan dan mengirim barang saja,” jelasnya.
Sejak 2013, Arista mengetahui ada kejanggalan dalam proses bisnis batik tersebut. Barang yang keluar sudah banyak, namun uang yang masuk tidak sesuai. Arista kemudian meminta pembukuan, namun Dwi tak kunjung memberikan. Arista kemudian membuat surat perjanjian sendiri dengan pemodal pada 2013. Sejumlah pemodal melakukan MoU perpanjangan, langsung dengan Arista. Itu pun atas rekomendasi dari Dwi. Tapi, hanya sebatas MoU, sedangkan semua uang masih di tangan Dwi.
Dari rekapan di rekening bank Arista, uang yang masuk sebesar Rp 4,5 miliar. Uang itu berasal dari Dwi yang didapatkan dari sejumlah pemodal untuk mengembangkan bisnis batik tersebut. ”Dalam perjalanan Arista sudah mengembalikan uang beserta keuntungan kepada Dwi sebesar Rp 13 miliar. Tapi, anehnya Dwi kembali meminta uang sebesar Rp 79 miliar kepada Arista pada Februari 2013,” bebernya.
Tidak hanya itu, kata dia, sejumlah pemodal mendatangi rumah Arista dan meminta uangnya dikembalikan. Usut punya usut ternyata, MoU dilakukan sendiri oleh Dwi tanpa sepengatahuan Arista. Sejumlah tanda tangan bahkan ada yang dipalsukan.
”Dwi mendapat uang modal Rp 180 juta, tapi oleh Dwi pembukuan dilaporkan klien kami (Arista, Red) jumlahnya Rp 1,8 miliar. Anehnya, sampai detik ini klien kami tidak diberitahu pembukuan berapa uang keluar masuk,” tambah Koesmartono.
Pihak kuasa hukum berharap Polrestabes Semarang bisa transparan dan objektif dalam menangani kasus tersebut. Pihaknya berharap agar segera dilakukan audit untuk mengetahui berapa uang yang masuk ke Arista. ”Harus objektif, ini kasus masih mengambang. Audit wajib dilakukan untuk memastikan berapa uang yang masuk,” kata Wahyu Rudi Indarto.
Salah satu korban investasi seragam batik, Fransiska Dewi, mengaku, kehilangan uang Rp 30 juta. Awalnya, ia menanamkan modal untuk usaha Dwi Handayani sebesar Rp 30 juta pada 2012. Dalam MoU, ia akan mendapatkan keuntungan 2,7 juta setiap bulan dari Dwi. ”Sempat mendapat transferan sampai Januari 2014. Tapi, setelah itu mandek,” akunya.
Ia lantas mendatangi Dwi Handayani untuk meminta kejelasan. Oleh Dwi, ia justru diarahkan untuk menangih uang kepada Arista. Kontan saja, ia kaget, karena dalam perjanjian ia menanamkan modal kepada Dwi Handayani. Tidak hanya itu, ia diberitahu jika uang dibawa Arista.
”Saya tidak kenal Arista, wong nanam modalnya kepada Dwi. Eh, malah Dwi melimpahkan dan tidak mau bertanggung jawab. Saya hanya ingin modal Rp 30 juta kembali,” katanya.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, masih terus mendalami kasus tersebut. Pihaknya bahkan sedang menunggu hasil audit BPK untuk mengetahui berapa kerugian akibat penipuan yang dilakukan pasangan Arista-Onang tersebut.
Dikatakan, semua yang terlibat atau disebut Arista pasti akan dipanggil untuk mengungkap kasus itu. Termasuk pelapor yang melaporkan penipuan Dwi Handayani. Dwi dalam keterangan Arista merupakan orang yang memegang pembukuan dan mencari pemodal. ”Siapa yang disebut Arista pasti akan kami panggil,” tegasnya.
Djihartono menegaskan, tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah. Saat ini, kata dia, penyidik masih terus mengembangkan dan menelusuri siapa yang terlibat. Dari pemeriksaan sementara, memang ada unsur penipuan termasuk memalsukan SPK dari Dinas Pendidikan Kota Semarang. ”Masih dikembangkan, tidak menutup ada tersangka baru. Sementara masih Arista dan suaminya Onang,” katanya. (fth/aro/ce1)

Sumber : http://radarsemarang.com/2014/06/18/arista-minta-audit-bpk/

18 Juni 2014 - Posted by | BERITA POLITIK DAN BERITA UMUM, SEMARANG

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: