KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Pengelolaan Dana BOS – Penggelembungan Belanja Barang Jadi Modus Jamak


SOLOPOS – Senin, 5 Mei 2014

Aktivis lembaga swadaya masyarakat Ekasita Solo, Aniek Tri M., suatu hari memfotokopi lembaran-lembaran data di sebuah kios penyedia jasa fotokopi. Ia mengaku terheran-heran karena biaya fotokopi di kios itu sangat murah. Ia lantas bertanya, apa yang membuat biaya fotokopi murah? Pemilik usaha itu menjawab bahwa harga kertas yang dia gunakan murah.

“Ternyata, kertas itu tidak dibeli di toko kertas atau pabrik kertas. Kertas untuk memfotokopi itu dia beli di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah dengan harga di bawah standar pasar,” ujar Aniek.

Pengalaman Aniek ini merupakan salah satu indikasi kebenaran dugaan rekayasa pembelanjaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di pos pembelian kertas dan jasa fotokopi.

Berdasar evaluasi akuntabilitas pengelolaan dana BOS dalam acara Working Group Kajian Akuntabilitas Program BOS di Hotel Indah Palace Solo, Kamis-Sabtu (1-3/5), biaya belanja kertas dan fotokopi di sekolah-sekolah penerima dana BOS banyak yang tidak wajar lantaran angkanya ada yang melampaui Rp 10 juta per kegiatan.

“Rasanya sangat tak wajar, biaya fotokopi kok sampai Rp 10 juta. Indikasinya memang dibelanjakan kertas sebanyak-banyaknya untuk dijual lagi,” kata Aniek.

Pembelian kertas dan biaya fotokopi hanyalah satu di antara sekian pos belanja dana BOS yang patut diduga merupakan praktik penggelembungan dana.

Di salah satu sekolah di Gunungkidul, sebagaimana yang terungkap dalam acara tersebut, ada laporan untuk membayar hosting website sekolah yang mencapai Rp800.000,-. Padahal, biaya sesungguhnya di pasaran hanya Rp100.000,-an/tahun. Selain untuk membeli barang habis pakai, penggunaan dana BOS yang rawan penggelembungan adalah alokasi honor guru di luar jam mengajar.

Dalam petunjuk teknis (juknis) pengelolaan dana BOS memang diperbolehkan menggunakan dana BOS untuk honor guru di luar jam kerja, tapi dengan berpedoman pada batas kewajaran.

“Kalau honor guru melampaui 80% dari biaya setiap program, apakah ini bisa disebut wajar? Lantas, siswa hanya kebagian 15% untuk pengadaan lembar kerja siswa (LKS),” kata Isnawati, aktivis organisasi nonpemerintah IDEA yang berbasis di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sejak diluncurkan pada Juli 2005, program BOS dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan akses dan kualitas pendidikan yang memang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai perubahan kebijakan, baik itu perubahan kebijakan anggaran dan perubahan kebijakan penggunaan dana BOS, telah dilakukan pemerintah sesuai Permendikbud No.101/2013.

Perubahan kebijakan itu dengan maksud penggunaan dana BOS tepat sasaran dalam mendukung penyelenggaraan wajib belajar sembilan tahun secara efektif dan efisien dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS dilaksanakan dengan tertib administrasi, transparan, akuntabel, tepat waktu, dan terhindar dari penyimpangan.

Setelah 10 tahun berjalan, apakah program BOS sudah tepat sasaran dan dikelola secara baik sebagaimana dimaksudkan dalam Permendikbud tersebut? Inilah pertanyaan dasar yang mengemuka dalam working group tersebut yang kemudian terjawab oleh data-data selama evaluasi.

Masing-masing pihak (pemerintah, lembaga legislatif, sekolah, masyarakat) tentu memiliki penilaian yang bisa jadi berbeda terhadap hal tersebut, tergantung posisi dan cara mereka dalam menilai. Tetapi yang pasti, menurut Febri Hendri dari Indonesia Corruption Watch (ICW), masyarakat sebagai pemilik sekaligus pemanfaat langsung program BOS harus memastikan penggunaan dana BOS tepat sasaran dan pengelolaannya transparan, akuntabel, dan partisipatif. (Aries Susanto)

Sumber: Harian Solopos, edisi Senin, 5 Mei 2014.

19 Mei 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL, SURAKARTA - SOLO

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: