KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

“Serangan Fajar”, Pelanggaran Pemilu, dan Ancaman Golput


SUARA MERDEKA.com – Jum’at, 28 Februari 2014

SEBUAH rekening dengan nilai jumbo masih diingat oleh seorang mantan asisten calon anggota legislatif DPR RI wilayah Jawa Tengah. Jumlahnya sekitar Rp 4,5 miliar. Dana sebesar itu untuk biaya melenggang senayan dinilai wajar, namun pembagiannya yang mengagetkan. “Dua miliar dikhususkan untuk dana serangan fajar,” kata sumber itu, awal pekan ini. Sisanya dua setengah miliar untuk ongkos kampanye mulai atribut sampai hibah ke tokoh tertentu.

Sumber yang terlibat langsung ke caleg itu mengatakan detail hitungan serangan fajar belum dihitung. Seorang sumber lain memperkirakan dana serangan fajar untuk wilayah Pantura Timur Jawa Tengah mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu setiap orang. “Dana itu perkiraan dari Caleg sendiri di tingkat kabupaten atau Jawa Tengah,” ujarnya yang memfasilitasi sejumlah caleg sosialisasi ke desa-desa.

Istilah serangan fajar lazim digunakan untuk menyebut pembagian uang dari caleg atau partai politik pada saat fajar sebelum pencoblosan agar memilihnya. Cara ini dinilai masih efektif, meskipun tidak menjamin seorang caleg atau partai politik menang. Praktik haram ini menurut dua sumber tadi akan tetap berlangsung pada Pemilihan Legislatif pada 9 April mendatang. Ancang-ancang dari para caleg “membeli” suara rakyat direspon serius oleh lembaga pengawas, regulator, pemantau independen Pileg ini.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah, Joko Purnomo, telah menyadari ancaman demokrasi dengan cara membeli suara. Praktik ini, kata Joko, diprediksi tetap ada dan telah disadari pihaknya. Tetapi secara empiris tidak ada jaminan caleg yang menggelontor serangan fajar lalu menang. “Dulu saya pernah memantau pemilu di Wonogiri yang calonnya memberikan banyak uang bahkan sampai ratusan juta di sebuah desa, tapi ternyata tidak menang,” ujarnya, Rabu (26/2).

Memberikan uang untuk memilih caleg tertentu, menurut Joko, merupakan pelecehan terhadap masyarakat. Slogan yang selama ini dikenal masyarakat adalah “jangan pilih orangnya, terima uangnya”, namun diubah melalui upaya kampanye masif KPU menjadi “jangan pilih orangnya, jangan terima uangnya”.

Sekretaris Komisi Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN), Jawa Tengah, Eko Haryanto, juga telah mengendus geliat para caleg menyiapkan dana serangan fajar. Bahkan cara-cara terselubung yang dilakukan sejumlah caleg dengan pengerahan massa dari basis organisasi yang dipimpinnya. “Pola-pola mendapatkan suara dengan tidak cerdas akan diulangi lagi melalui praktik-praktik kotor. Susah memang berharap caleg baik,” keluhnya.

Dana besar caleg, kata Eko, diduga dipasok dari orang yang punya kepentingan dengan keterpilihannya nanti. Transaksi telah dilakukan saat masa pencalonan. Sebab kampanye memerlukan modal besar. “Untuk DPR RI mungkin bisa sampai belasan miliar,” katanya.

KPK2KKN bekerjasama dengan Indonesian Corruption Watch (ICW) akan menyebar pemantau masa kampanye hingga pemilihan nanti di Kota Semarang dan sekitarnya. Dalam pemantauan secara independen itu akan dijaring informasi mengenai pelanggaran-pelanggaran.

Sementara Koordinator Divisi Pengawasan dan Humas Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jateng, Teguh Purnomo, telah mencegatnya dengan pengitensifan pemantauan pelanggaran di setiap tahapan. Tahapan pemantauan dibagi menjadi tiga, yakni masa kampanye, masa tenang, dan masa pemilihan atau hari H pencoblosan.

Di dalam masa kampanye, jelasnya, hanya tim yang terdaftar yang akan dipidana jika terbukti memengaruhi pemilih dengan uang. Saat masa tenang, lanjutnya, tim kampanye ditambah orang yang terlibat yang akan kena pidana dan ketika hari H semua orang yang terlibat masuk radar pidana. “Ada yuresprudensi yang dapat diterapkan dari kasus Purworejo pada masa kampanye nanti. Perorangan dapat dipidana di masa kampanye jika terlibat pelanggaran seperti money politic,” katanya.

Pada kasus Purworejo, seorang PNS, Muslikhah dipidana karena terlibat kampanye di luar jadwal oleh caleg DPR RI pada pertengahan Februari ini. Kasus pidana pemilu itu merupakan yang kedua setelah muncul kasus Ketua Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI), Sutiyoso pada akhir tahun 2013 lalu.

Tak Jera

Kasus kedua tersebut menunjukkan belum adanya efek jera dan pembelajaran dari kasus pertama. Pada akhir Januari, Polda Jawa Tengah merilis ada 127 dugaan pelanggaran pemilu. Sebanyak 121 di antaranya terkait adminitrasi, dua kasus pidana kampanye di luar jadwal, empat kode etik, dan satu terkait sengketa pemilu. Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Dwi Priyatno, mengatakan dugaan tersebut dalam penyelidikan dan penyidikan.

Secara mutakhir beragam dugaan pelanggaran Pemilu di seluruh Indonesia dapat dilihat dengan detail lewat situs pengawas pemilu secara online dan transparan di matamassa.com <http://matamassa.com>. Sejak 15 Desember 2013 hingga 7 Februari 2014 ada sebanyak 314 laporan. Terindikasi dugaan tindak pidana pemilu sebanyak lima laporan, sementara 308 laporan lainnya sebatas dugaan pelanggaran administratif, dan satu laporan masuk lain-lain.

Dengan data ini operator dan pengatur Pemilu dapat mengambil kebijakan, tetapi hingga saat ini hanya ada tanggapan-tanggapan klise dan cenderung tidak membuat caleg jera mengotori pepohonan dan tata ruang.

Jauh sebelumnya, “tradisi” pelanggaran pemilu masa Orde Baru dapat dilihat dalam buku “Pemilu Dalam Poster: Jawa Tengah”, 1982 karya Ketut Suwondo, Arief Budiman, dan Pradjarta Ds. Terekam di dalamnya PDI memasang spanduk dari bahan anyaman bambu pada sebuah pohon di Ambarawa (hlm. 31). Spanduk PPP mengantung di sebuah pohon di Yogyakarta (hlm . 37). Spanduk Golkar dan PDI dalam satu pohon di Magelang. Golkar tampak kecil dan rendah (hlm. 38). Spanduk dengan tulisan tidak resmi Golkar pada tiga pohon kelapa di Semarang (hlm. 41). Bendera partai Golkar di atas pohon di Salatiga (hlm. 47). Spanduk tersebut dipasang di area larangan, tetapi tetap berkibar dan terpampang.

Tekan Golput

Berbagai pelanggaran caleg membuat sejumlah kelompok masyarakat apatis untuk memilihnya dan cenderung mengarah ke “memilih untuk tidak memilih” alias golput. Terlebih, masih ada tipe pemilih yang pamrih dengan uang melalui serangan fajar. Dua potensi penganggu alam demokrasi berusaha diatasi oleh KPU dengan kampanye intensif mengenai slogan baru.

Joko mengatakan dahulu slogan utama adalah “memilih dengan nurani”, saat ini digelontorkan dengan “memilih sesuai kepentingan”. “Slogan yang kedua itu memang baru dan radikal. Kita ingin tetap mereka memilih dari hati nurani, tetapi juga untuk memerangi wacana politik uang, maka pemilih diarahkan untuk menganti uang dengan kepentingan,” jelasnya.

Memilih dengan kepentingan, katanya, mengajak pemilih secara rasional. Sebab, pemilu merupakan cara mengonfersi suara rakyat menjadi penyelanggara negara. Pemilih, ujarnya, harus memiliki kepentingan ketika memilih seorang caleg. “Memilih atau tidak caleg tetep akan jadi. Jadi golput bukan solusi. Solusinya ya memilih sesuai dengan kepentingannya. Pilihlah sesuai dengan visi dan misi, kalau tidak sesuai ya yang paling dekat,” paparnya.

Pileg ini, KPU menargetkan mampu menekan angka golput. Sebanyak 75 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) Pileg 2014 di Jateng lebih kurang 27.125.000 orang ditargetkan menggunakan hak pilihnya. Target ini meningkat dari Pemilihan Gubernur Jateng lalu yakni 70 persen memilih, tetapi hasilnya sekitar 50 persen yang menggunakan hak pilih. “Kita optimis dengan target tersebut. Ini didukung dengan relawan-relawan, dana sosialisasi, dan kerjasama dengan sejumlah media,” paparnya.

(Zakki Amali/CN39)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2014/02/28/1120/Serangan-Fajar-Pelanggaran-Pemilu-dan-Ancaman-Golput

28 Februari 2014 - Posted by | KP2KKN DALAM BERITA, SEPUTAR JAWA TENGAH - PROV. JATENG

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: