KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Akil Serang Mahfud – Anggap Bertanggung Jawab


SUARA MERDEKA – Jum’at, 28 Februari 2014

  • Hambit-Cornelis Dituntut 6 Tahun, Nisa 7,5 Tahun
image

JAKARTA-Terdakwa mantan ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar menyampaikan nota keberatan (eksepsi) pribadi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (27/2).

Kesempatan itu dia gunakan untuk menyerang bekas koleganya, Mahfud MD. Akil menyatakan, dirinya bukan anggota panel hakim dalam perkara sengketa Pilkada Banten 2011.

Ketua panel hakim adalah Mahfud MD. Ia mempertanyakan surat dakwaan jaksa yang tidak mencantumkan nama Mahfud. ”Saya bukan ketua ataupun anggota panel hakim MK yang mengadili perkara tersebut, melainkan Mahfud MD. Tidak ada relevansinya, transfer ke CV Ratu Samagat dengan permohonan perkara Pilkada Banten di MK,” katanya.

Akil menganggap Mahfud turut bertanggung jawab dalam memutus perkara itu. ”Kenapa jaksa penuntut umum tidak berani sampaikan Mahfud MD sebagai (ketua) panel (hakim) Pilkada Banten? Ada apa gerangan?,” ucapnya.

Akil membantah terlibat langsung dalam perkara tersebut. Menurutnya, justru Mahfud yang mengadili perkara itu dan tahu apa yang terjadi. Dalam kasus ini, Akil didakwa menerima fee Rp 7,5 miliar untuk memenangkan Atut Chosiyah sebagai gubernur Banten.

Duit itu diterima dari Chaeri Wardana alias Wawan, adik Atut. Pada Pilkada Banten 2011, KPU Banten menetapkan pasangan Atut Chosiyah dan Rano Karno sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih. Namun kemenangan Atut dan Rano digugat ke MK. Permohonan gugatan ke MK diajukan oleh ketiga pasangan lain yang kalah.

Wawan kemudian menghubungi Akil, meminta agar Atut dimenangkan dengan janji imbalan miliaran rupiah. Wawan beberapa kali mentransfer uang ke rekening CV Ratu Samagat, perusahaan yang dikelola istri Akil, Ratu Rita.

Transfer dilakukan beberapa bawahan suami Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany itu pada 2011. Pada bagian lain, Akil juga menyerang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia menyatakan kaget dengan dakwaan jaksa yang bersifat kumulatif. Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada dan pencucian uang itu menganggap surat dakwaannya terasa ”meriah”.

Dia kaget karena dijerat banyak tindak pidana korupsi yang sebelumnya tidak disangkakan kepadanya. Dia juga menuding, sejak penangkapannya terjadi sejumlah kejanggalan. Akil didakwa dengan enam pasal dakwaan. Empat dakwaan terkait suap dan dua soal pencucian uang.

Uang suap yang diduga diterima Akil lebih dari Rp 160 miliar. Dalam beberapa kali kesempatan, Mahfud MD membantah terlibat kasus suap sengketa Pilkada Banten. Menurut Mahfud, Akil bermain sendiri.

Pilkada Gunung Mas

Sementara itu, dalam kasus suap sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dua penyuap Akil dituntut pidana masing-masing enam tahun penjara. Keduanya adalah Bupati Gunung Mas (nonaktif) Hambit Bintih dan pengusaha Cornelis Nalau Antun. Mereka juga dituntut pidana denda masing-masing Rp 200 juta setara tiga bulan kurungan.

Menurut Jaksa Ely Kusumastuti, Hambit bersama Cornelis yang merupakan Komisaris PT Berkala Maju Bersama terbukti menyuap Akil dengan uang Rp 3 miliar melalui anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar Chairun Nisa.

Jaksa Surya Neli menambahkan, suap itu diberikan untuk mempengaruhi Akil dalam memutuskan perselisihan Pilkada Kabupaten Gunung Mas yang diajukan pasangan Alfidel Jinu-Ude Arnold Pisi dan Jaya Samaya Monong-Daldin.

Lebih lanjut Jaksa Ely memerinci, Hambit yang ditetapkan sebagai bupati Gunung Mas periode 2013-2018 bersama Cornelis menyuap Akil dengan uang 294.050 ribu dolar Singapura, 22 ribu dolar AS, dan Rp 766 juta atau total senilai Rp 3 miliar, serta Rp 75 juta melalui Chairun Nisa. Menurut Ely, pada 19 September 2013 Hambit menemui Chairun Nisa di sebuah restoran di Hotel Sahid, Jakarta.

Hambit meminta Nisa membantu mengurus sengketa pilkada dan dipertemukan dengan Akil Mochtar. Nisa kemudian menghubungi Akil. Pada 20 September 2013, Hambit menemui Akil di rumah dinas ketua MK di Kompleks Widya Chandra III Nomor VII, Jakarta Selatan.

Tiga hari setelah pertemuan dengan Hambit, Akil menetapkan majelis hakim panel. Akil menjadi ketua merangkap anggota, Anwar Usman dan Maria Farida Indrati sebagai anggota. ”Pada 24 September 2013, Akil mengirim pesan singkat kepada Chairun Nisa berisi, ”Besok sidang. Kemarin pemohon sudah ketemu saya langsung. Si Bupatinya.

Tapi saya minta lewat bu Nisa saja’,” sambung Jaksa Sigit Waseso. Akil lantas meminta Chairun Nisa menghubungi Hambit agar menyiapkan dana Rp 3 miliar dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Pada 26 September 2013, Hambit dan Cornelis menemui Nisa di Hotel Borobudur, Jakarta. Saat itu, Nisa memperlihatkan pesan singkat dari Akil, yang isinya minta imbalan Rp 3 miliar dalam bentuk dolar. Hambit dan Cornelis menyanggupi.

Hambit kemudian meminta Cornelis menyiapkan uang. Pada 30 September 2013 Hambit mengontak Nisa dan menyatakan dana untuk Akil sudah siap. Pada 2 Oktober 2013, Chairun Nisa mengontak Akil dan akan memberikan duit suap itu. Akil menyanggupi akan menerima duit itu di rumah dinasnya.

Chairun Nisa datang bersama Cornelis membawa uang suap itu. Tak lama kemudian ketiganya disergap tim KPK. Dalam sidang terpisah, terdakwa Chairun Nisa dituntut hukuman tujuh tahun enam bulan penjara. Jaksa menyatakan, Nisa terbukti menjadi perantara pemberian suap Rp 3 miliar dari Hambit dan Cornelis kepada Akil.

”Menuntut, supaya majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Chairun Nisa dengan pidana penjara selama tujuh tahun enam bulan dikurangi masa tahanan,” kata jaksa saat membacakan tuntutan terhadap Nisa. Jaksa juga menuntut pidana denda Rp 500 juta. Jika tidak dibayar, Nisa dihukum enam bulan kurungan.

Menurut Jaksa Pulung, Nisa terbukti melanggar dakwaan alternatif pertama. Yakni Pasal 12 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam analisis fakta persidangan yang dibacakan Jaksa Olivia Sembiring, Chairun Nisa bersama Akil Mochtar didakwa menerima suap 294,050 ribu dolar Singapura, 22 ribu dolar AS, dan Rp 766 juta atau total setara Rp 3 miliar, serta Rp 75 juta dari Hambit Bintih dan Cornelis. Rp 75 juta merupakan fee untuk Nisa atas jasanya menjadi perantara Akil dengan Hambit dan Cornelis. (D3-59)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/02/28/254012/Akil-Serang-Mahfud

27 Februari 2014 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: