KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Kades Kecila Jadi DPO Kasus Korupsi

SATELIT POST – 16 April 2013

 

BANYUMAS, SATELITPOST-Setelah tiga kali pemanggilan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyumas, Sugeng Priyanto, Kepala Desa Kecila, Kecamatan Kemranjen masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Penetapan ini sesuai dengan dugaan penggelapan dana uang kas desa sebesar Rp 102 Juta, dan kasus ini sudah diselidiki sejak bulan Juli 2012.

 

Saat handphone Kades Kecila masih Aktif, beberapa waktu yang lalu sempat dihubungi oleh SatelitPost. Saat itu kades sendiri menyatakan sudah mengembalikan uang tersebut dan sisanya dipinjam oleh tukang kebun Kantor Desa Kecila.

 

Menurut Kasi Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Banyumas, Nur Akhirman SH MH, penetapan Kades Kecila sebagai DPO sendiri sudah dua pekan lalu. Namun, hingga saat ini kades juga belum ditemukan. Kita minta bantuan pihak Polres agar pencarian tersangka bisa maksimal. Surat permohonan ke kapolres kita kirimkan minggu lalu,” kata Nur Akhirman, Minggu (14/4).

 

Beberapa kali dilakukan penggrebegan di rumah DPO, Kades Kecila bisa meloloskan diri. Kemudian Kejari juga sempat mencari kades di kediaman istrinya di Sumpiuh, namun kembali kades bisa meloloskan diri. “Makanya saat mendengar dia pulang, kita langsung bergerak, tapi sudah keburu pergi lagi,” kata Nur Akhirman.

 

Berkas tuntutan tersangka dan barang bukti sebenarnya sudah siap dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jateng. Namun terkendala, ketidakhadiran tersangka. Pemanggilan tersangka, untuk kepentingan melengkapi pemberkasan materi tuntutan.

 

Dia mengatakan, panggilan pertama dilayangkan awal Maret, namun tidak datang tanpa konfirmasi. Kemudian Kejari kembali melayangkan panggilan kedua pertengahan Maret dan panggilan ketiga akhir Maret. Saat pemanggilan kedua dan ketiga, jaksa juga minta bantuan camat setempat. (san)

Sumber : http://satelitnews.co/2013/04/16/kades-kecila-jadi-dpo-kasus-korupsi/

Short URL: http://satelitnews.co/?p=17317

25 Oktober 2013 Posted by | BANYUMAS - PURWOKERTO | Tinggalkan komentar

Dua Tersangka Korupsi Menghilang, Kejari Slawi Lakukan Pengawasan

SUARA MERDEKA – 8 Februari 2010

Slawi—Dua kepala desa (kades) di Kabupaten Tegal yang terjerat kasus dugaan tindak pidana korupsi, usai ditetapkan menjadi tersangka, diduga menghilang. Keduanya dikabarkan telah kabur meninggalkan desanya. Keduanya Suyoto (50), Kades Karangjambu, Kecamatan Balapulang  dan Abdul Basir (46), Kades Mulyoharjo, Kecamatan Pagerbarang.

Suyoto dikabarkan kabur ke Jakarta. Dia ditetapkan tersangka oleh penyidik kejaksaan atas dugaan tindak pidana korupsi dana alokasi desa (ADD) Karangjambu untuk pos perbaikan atau pemugaran 10 rumah milik penduduk miskin.

Adapun, total kerugian negara dalam kasus ini adalah Rp 20 juta. Sementara, Abdul Basir dikabarkan kabur ke luar Pulau Jawa untuk menjalani bisnis pertambangan. Dia yang sempat maju sebagai calon Wakil Bupati Tegal dalam Pilkada tahun 2008 ini terjerat kasus tindak pidana korupsi pengadaan bantuan komputer bagi 287 desa/ kelurahan. Basir yang juga menjabat Ketua Persatuan Perangkat Desa Jawa Tengah (Praja) Kabupaten Tegal diduga telah melakukan mark up atau penggelembungan dana sebesar Rp 300 ribu/ unit/ desa dalam pengadaan komputer tahun 2007 lalu.

Kepala Kejari Slawi Samsuddin SH MH didampingi Kasi Intel Gunawan SH menegaskan, hingga kini masih tetap melakukan pegawasan terhadap dua tersangka tersebut. “Kalau pun mereka nantinya kabur atau melarikan diri, maka kami akan memasukkan keduanya dalam daftar pencarian orang (DPO) serta melakukan upaya pencarian terhadap mereka,” tandasnya.

Tahap Penyidikan

Sejauh ini, dua kasus tindak pidana korupsi tersebut masih memasuki tahap penyidikan. Sementara itu, sejak muncul dalam media massa, Kades Mulyoharjo, Abdul Basir belum pernah menampakkan diri ke balai desa. Kasi Pemerintahan Desa Mulyoharjo, Wakhyono mengaku tidak tahu menahu atas keberadaan pimpinannya tersebut. “Biasanya, setiap hari, Pak Kades selalu datang ke balai desa. Belum tahu, kenapa beberapa hari ini tidak muncul lagi,” tandasnya saat ditemui di kantornya, baru-baru ini.

Saat dikunjungi ke rumahnya, Abdul Basir juga tidak berada di tempat. Pintu rumahnya tertutup dan terkunci rapat-rapat. Salah seorang warga yang minta dirahasiakan namanya mengatakan, Kades Mulyoharjo ini pada awal bulan Januari 2010 sudah merencanakan untuk berbisnis tambang di luar Pulau Jawa.

Rencana tersebut tampaknya telah disusun beberapa pekan setelah dirinya ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus pengadaan komputer oleh Kejari Slawi. Tepatnya pada bulan Desember 2009 lalu. (J17-61 )

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v2/index.php/read/cetak/2010/02/08/98157/Dua-Tersangka-Korupsi-Menghilang-

25 Oktober 2013 Posted by | SLAWI | Tinggalkan komentar

Kejari Periksa Empat Kades

SUARA MERDEKA.com – 09 Februari 2010

  • Dugaan Korupsi Pengadaan Komputer
SLAWI – Empat kepala desa (kades), Senin (8/2), diperiksa penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Slawi atas kasus dugaan korupsi pengadaan komputer tahun 2007.

Keempat kades  dari Kecamatan Tarub adalah Hasanudin (Karangjati), Muhammad Zaeni (Lebeteng), Drs Bambang Dwi Koranto (Purbayasa) dan Tarikhin (Kedungbungkus).

Kajari Slawi, Samsuddin SH MH didampingi Kepala Tim Penyidik, Budi Dharmawan SH mengatakan, empat kepala desa ini diperiksa sebagai saksi.
Mereka dimintai keterangan terkait dengan kasus yang diduga melibatkan Ketua Persatuan Perangkat Desa Jawa Tengah (Praja) Kabupaten Tegal, Abdul Basir SH tersebut.

Menurut dia, terdapat 10 pertanyaan yang diajukan penyidik kejaksaan dalam perkara ini. ”Belum jelas apakah nantinya 287 kepala desa/ kelurahan bakal dipanggil semua.

Yang pasti nantinya ada beberapa kades dijadikan sampel dalam perkara ini,” katanya, Senin (8/2). Pemeriksaan terhadap kepala desa ini rencananya masih akan berlanjut pada hari Selasa (9/2) ini.

Pihaknya mengatakan, pemeriksaan saksi ini seperti kurang mengena lantaran kepala desa yang dipanggil seluruhnya pejabat baru. Karena itu, mereka hanya sedikit mengetahui tentang proyek pengadaan komputer di 287 desa/ kelurahan yang dikoordinir oleh tersangka, Abdul Basir tersebut. Beberapa komputer yang sekarang ini berada di kantor kades itu kini juga sudah rusak.

Terkait dengan kabar menghilangnya tersangka Abdul Basir yang kini masih aktif menjadi Kades Mulyoharjo, Kecamatan Pagerbarang, pihaknya mengaku tak mau ambil pusing.  ”Proses penyidikan perkara korupsi tetap berlanjut. Ada tersangka atau tidak, proses pemberantasan korupsi tetap berlangsung,” tandasnya.

Dicari

Yang pasti, ia menjelaskan, apabila benar-benar kabur meninggalkan desanya, tersangka pasti tetap akan dicari. Tersangka juga nantinya akan dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) Kejari Slawi.

Koordinasi dengan aparat kejaksaan di luar Pulau Jawa juga akan dilakukan jika ada tersangka yang melarikan diri ke sana. Sebab, selama ini, Kejari Slawi juga seringkali diminta kejaksaan dari luar Jawa untuk membantu mencari DPO.

Dalam perkara ini, Abdul Basir yang sempat maju dalam Pilkada Kabupaten Tegal tahun 2008 sebagai calon wakil bupati ini diduga melakukan tindak pidana korupsi sebesar Rp 222.194.000 (bukan Rp 86 juta) melalui alokasi dana desa (ADD) 2006. Basir diduga memotong ADD yang akan digunakan membeli komputer sebesar Rp 846 ribu/ unit/ desa.

Hal ini dilakukan sebelum anggaran dicairkan dan sampai ke 287 desa/ kelurahan. Tak hanya itu, penyidik Kejari Slawi ternyata juga menyelidiki perkara korupsi pengadaan tanah di Desa Mulyoharjo bagi warga eks Cacaban. Dengan demikian, diperkirakan kerugian negara akibat tindakan tersangka ini sebesar 400 juta lebih. (J17-61 )

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/02/09/98235/Kejari-Periksa-Empat-Kades

25 Oktober 2013 Posted by | SLAWI | Tinggalkan komentar

Kisah Jaksa Brebes Mengejar Aset Koruptor Rp 17 Juta Selama 20 Tahun

detikNews – Senin, 20/05/2013

Gedung Kejaksaan Agung (ari saputra/detikcom)

Jakarta – Tak kenal lelah, jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Brebes, Jawa Tengah mengejar aset negara sebesar Rp 17 juta dari tangan koruptor yang telah meninggal dunia, Tajudin Khamim. Tidak kepalang tanggung, jaksa mengejar uang negara itu selama 20 tahun lamanya.

Seperti dilansir dalam putusan kasasi Mahkamah Agung (MA), Senin (20/5/2013), drama hukum ini bermula saat Pengadilan Negeri (PN) Brebes menjatuhkan vonis pidana kepada Tajudin Khamim selama 1,5 tahun. Dalam putusan tertanggal 26 Agustus 1991 ini, Tajudin terbukti mengorupsi kas KUD Desa Kaliloka, Rt 3/1 Sirampeg, Brebes.

Selain itu, majelis PN Brebes juga menghukum denda Rp 3 juta dan pidana tambahan berupa uang pengganti Rp 17.135.636. Atas vonis ini, Tajudin tidak terima dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Semarang namun kandas. Sebab pada 13 November 1991, PT Semarang malah menguatkan amar putusan PN Brebes.

Atas vonis tingkat banding ini, Tajudin pun akhirnya menyerah dan menjalani hukuman. Namun untuk uang pengganti, Rp 17 juta yang harus dia bayar tak kunjung disetor ke kas negara. Alhasil, Kejari Brebes melayangkan surat perintah membayar pada 30 Juli 1993.

Anehnya, selama bertahun-tahun Kejari Brebes tak segera mengeksekusi uang tersebut sampai-sampai Tajudin meninggal dunia pada 29 September 2000. Mendapati sang koruptor telah tiada, jaksa tidak habis akal.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Brebes pun membidik ahli waris Tajudin untuk mengganti uang Rp 17 juta yang tak kunjung dibayar. Mereka yaitu istri Mukhsonah dan 4 anaknya yaitu Susi Ampiyani, Farid Nandhi, Teguh Prasetyo dan Ginanjar Maulani.

Terobosan hukum jaksa ini ternyata menemui jalan buntu. Sebab pada 8 Desember 2010, PN Brebes mengadili gugatan tidak diterima. Putusan ini lalu dikuatkan PT Semarang pada 13 Juni 2011.

Tak putus asa, Kajari Brebes pun mengajukan kasasi tetapi lagi-lagi kandas. Sebab MA tegas menolak upaya hukum kasasi Kajari Brebes.

“Dengan meninggalknya terpidana, maka gugur lah semua kewajiban eksekusi perkara pidana yang merupakan pemidanaan atas dirinya. Dengan demikian pembayaran uang pengganti tidak dapat dibebankan kepada para ahli waris karena kewajiban terpidana telah gugur,” demikian alasan majelis kasasi MA yang diketok pada 29 Juni 2012.

Duduk sebagai ketua majelis kasasi Prof Dr Valerine JL Kriekhoff dengan hakim anggota Prof Dr Takdir Rahmadi dan Sultoni Mohdally.

(asp/van)

Sumber : http://news.detik.com/read/2013/05/20/135817/2250696/10/kisah-jaksa-brebes-mengejar-aset-koruptor-rp-17-juta-selama-20-tahun?ntprofil

25 Oktober 2013 Posted by | BREBES | Tinggalkan komentar

Dua Tersangka Korupsi Diburu Kejari Batang

LIPUTAN6.COM – 27 Februari 2010

Batang (ANTARA News) – Kejaksaan Negeri Kabupaten Batang, Jawa Tengah hingga saat ini masih memburu dua tersangka kasus korupsi yang telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

Kepala Seksi Inteljen Kejari Kabupaten Batang, Tatang Hermana, di Batang, Sabtu, mengatakan, dua tersangka tersebut, yaitu Manajer KUD “Ngupoyo Mino”, Rozi Sahidin dan Bendahara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Batang, Djaka Mulyadi.

Rozi buron dalam kasus dugaan korupsi pemotongan dana retribusi lelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Batang sebesar Rp1,2 miliar sedangkan Djaka diduga terlibat korupsi anggaran Pilkada 2007 sebesar Rp300,5 juta.

“Sesuai instruksi Kajari Batang, Sang Ketut Mudita, kedua tersangka telah ditetapkan sebagai DPO. Selain itu, kami juga telah minta bantuan pada polres untuk mencari mereka,” katanya.

Sebelum memasukkan mereka sebagai DPO, katanya, kejari setempat sudah berupaya mencari mereka termasuk meminta bantuan pihak keluarga dan penasihat hukum masing-masing.

“Namun para keluarga tersangka seperti menutup diri terhadap keberadaannya sehingga kejaksaan menetapkan keduanya sebagai DPO,” katanya.

Rozi, katanya, menghilang sejak pemanggilan oleh Kejari Batang pada 19 Januari 2009 sedangkan Djaka buron sejak 2008.

Kepala Polres Batang, AKBP Achmad Lutfhi, mengatakan, pihak polres siap membantu kejari untuk memburu dua tersangka itu.

“Kami siap mencari dua tersangka itu. Bahkan khusus tersangka Djaka, aparat kepolisian juga mencari ke tempat saudaranya yang ada di sejumlah daerah,” katanya.
(U.K-KTD/M029/P003)

Sumber : http://www.yiela.com/view/945864/dua-tersangka-korupsi-diburu-kejari-batang

25 Oktober 2013 Posted by | BATANG | Tinggalkan komentar

   

%d blogger menyukai ini: