KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Kasus Wisma Atlet: Bagi Wafid, Nazaruddin Jaminan Pribadi

KOMPAS.com – Minggu, 14 Agustus 2011
TRIBUN NEWS/HERUDIN Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di kantor KPK, Jakarta Selatan, Selasa (26/4/2011). Wafid ditangkap KPK pada 21 April 2011. Dia ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan suap dalam pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang.

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharam, mengaku mengenal mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Ia dikenalkan oleh Direktur Pemasaran PT Anak Negeri, Mindo Rosalina Manulang, pada Mei 2009.

“Saat dikenalkan Rosa, bagi saya, Nazaruddin adalah jaminan pribadi (personal guanranttee), yang membuat saya semakin yakin dan percaya, di antaranya kalau pinjam uang,” kata Wafid kepadaKompas, melalui kuasa hukumnya, Erman Umar, yang menemuinya di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, akhir pekan lalu.

Tentang pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dengan Nazaruddin di ruang kerjanya, Wafid mengaku hanya menjadwalkan tanggal pertemuannya saja. Namun, ia tidak menahu tentang isi pertemuan tersebut.

“Saya hanya menjadwalkan acara saja, dan tidak tahu agendanya apa dan bicarakan apa dalam pertemuan tersebut,” lanjut Wafid, yang 9 Juli lalu baru merayakan ulang tahunnya yang ke 51 di ruang penjara LP Cipinang dengan tausiyah.

Ia juga mengaku buta soal politik. “Saya tidak pernah tahu soal politik, saya hanya bekerja. Karena itu saya tidak mau dikait-kaitkan dengan soal politik,” jelas Wafid.

Hanya pinjaman

Dalam kesempatan itu, Wafid juga membantah soal komisi yang kabarnya diberikan kepadanya sebesar dua persen dari kemenangan PT Duta Graha Indah, yang menjadi pelaksana proyek Wisma Atlet Sea Games 2011.

“Saya tidak menerima komisi apapun. Saya tidak tahu komisi dua persen itu. Saya hanya meminjam uang untuk menalangi pembayaran bagi kepentingan penyelenggaraan SEA Games seperti untuk tambahan Inosoc, yang Mei lalu harus segera dibayarkan. Padahal, dana APBN belum cair,” tandas Wafid.

Menurut Wafid, saat petugas KPK datang ke ruang kantornya di lantai tiga Gedung Menpora, Senayan, 21 April lalu, sebenarnya ia mau menerima pinjaman tersebut dari Rosa. Namun, ternyata, Rosa juga membawa Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris, dan mengenalkannya.

Waktu itu, Kantor Pemuda dan Olahrga membutuhkan dana talangan Rp 6 miliar. “Saya diberitahu Rosa, di map hijau yang diberikan itu ada cek senilai Rp 3,2 miliar. Akan tetapi, map itu saya berikan lagi kepada staf saya,” kata Wafid, yang 30 tahun ini tinggal di rumahnya Perumnas Karawaci, Tangerang.

Soal uang dolar AS dan asing lainnya yang ada di mejanya, Wafid menyatakan uang itu juga uang pinjaman yang akan ditukarkan untuk biaya operasional Kantor Menpora. “Uang itu bukan untuk saya. Kalau itu untuk saya, untuk apa saya berikan kepada staf. Kan, lebih baik saya kantungi jauh-jauh hari,” tambah pria kelahiran Garut, Jawa Barat, yang memiliki dua anak itu.

Tahun lalu, Wafid juga mengaku pernah meminjam kepada Rosa dana Rp 1 miliar untuk operasional kantornya. Namun, uang itu sudah dikembalikan melalui rekanannya, yang mengenalkan dia dengan Rosa.

“Kalau saya dianggap salah, dianggap melacurkan diri dengan cara mencari dana talangan, ya tidak apa-apa. Yang penting saya sudah berbuat seoptimal mungkin untuk menggerakkan kantor,” papar Wafid.

Terkait  tertangkap dan ditahannya Nazaruddin, Wafid berharap, Nazaruddin, dapat membuat kasus wisma atlet terang benderang.

“Buat saya, yang bisa saya harapkan adalah kasus ini semakin terang benderang. Buat saya apa lagi,” tandas Wafid.

Nazaruddin diharapkan juga mendudukan persoalannya, khususnya keterkaitannya dalam kasus wisma atlet yang sebenarnya.

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Survey: Lagi, Soeharto Dianggap Terbaik

KOMPAS.com – Minggu, 14 Agustus 2011
JB. SURATNO Mantan Presiden Soeharto.

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden ke dua Republik Indonesia, Soeharto kembali menjadi pilihan publik sebagai kepala negara yang dianggap paling berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Setara Institute yang melakukan survei tersebut, menyebut penelitian dilakukan tanpa ada paksaan maupun intervensi.

Dalam survey, masyarakat diminta mengisi jawaban terhadap apa yang dirasakan selama 66 tahun mengenyam kemerdekaan. Sebanyak 64,6 persen responden memilih Soeharto sebagai presiden paling berhasil mensejahterakan rakyat.

“Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memandang Soeharto, lebih dari Presiden manapun di Republik ini, yang dianggap berhasil mensejahterakan rakyatnya. Meskipun di sisi lain, masyarakat agaknya kurang juga memperoleh informasi yang cukup mengenai pemerintahan Soeharto yang juga meninggalkan catatan buruk dalam otoritarianisme dan pelanggaran HAM,” ujar Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta, Minggu (14/8/2011).

Presiden RI pertama Soekarno berada di posisi kedua dengan jumlah responden yang memilih sebanyak 13,6 persen. Urutan ketiga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebanyak 9,9 persen. Presiden Abudrahman Wahid dipilih oleh 5,5 persen responden. Presiden Megawati Soekarnoputri dipilih oleh 2,5 persen orang, sedangkan Presiden B.J. Habibie dipilih 1,7 persen orang. Hanya 2,1 persen responden yang tak menjawab pertanyaan tersebut.

“Meski pada era pasca Soeharto panggung kekuasaan politik Indonesia telah menampilkan beberapa Presiden dengan program dan kebijakan kesejahteraan yang berbeda, namun, sosok Soeharto yang sering disebut Bapak Pembangunan ini rupanya belum tergantikan di mata publik dalam hal meningkatkan kesejahteraan,” tutup Bonar.

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

SBY Pemimpin Bersifat Ragu-Ragu

SUARA MERDEKA CyberNews – Minggu, 14 Agustus 2011

Jakarta,CyberNews. Hasil survei yang dilakukan Setara Institute juga mencakup pada penilaian terhadap pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menghasilkan, 41.9 persen responden menilai SBY termasuk dalam pemimpin yang dinilai masyarakat ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

“Dari berbagai kesan yang mucul sebagaian perolehan terbesar 41.9 persen menyatakan bahwa presiden SBY adalah pemimpin yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan,” kata Wakil Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos dalam paparan Survei sepuluh Provinsi Tentang HUT ke 66 RI: Kebangsaan dan Evaluasi Pemerintahan, di Jakarta, Minggu (14/8).

Menurut dia, hasil survei ini menunjukkan pencitraan yang dibangun SBY selama dua priode menjabat sebagai kepala negara gagal.  “Ini prestasi yang cukup buruk selama dua periode hingga akhir 2014 nanti,” ungkap Bonar

Masih ada masyarakat yang memilih kategori SBY sebagai presiden yang tegas selama dua periode dalam mengambil sebuah keputusan. “Ada sekitar 22.5 persen yang menilai pribadi SBY cukup tegas,” ujarnya.

Survei ini menunjukan bahwa Presiden SBY merupakan sosok pemimpin yang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Meski boleh jadi anggapan masyarakat ini ada benarnya, tutur Bonar, sikap Presiden semacam itu dapat pula disebabkan pula oleh kabinet yang terdiri dari berbagai unsur partai politik.

Setara dalam melakukan survei membagi atas 5 kategori dalam penilaian terhadap pribadi Presiden SBY, tiga diantaranya, Pemimpin yang terlalu kompromi dengan partai politik sebanyak (13.4%), Pemimpin yang memperhatikan aspirasi rakyat (9.7%) dan jawaban tidak tahu atau tidak jawab (12.5%).

Setara Institute melakukan survei di sepuluh Provinsi yang dipilih dengan teknik penentuan wilayah secara acak sistematis dan bertingkat. Teknik penentuan responden survei ini menggunakan Kish Grid Methode. Sedangkan, unit sampling adalah 25 responden per desa/kelurahan data wawancara tatap muka. Total jumlah responden adalah 3 ribu orang.

Sepuluh provinsi tersebut yaitu, Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, NTB, Sulsel, Kaltim, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatra Barat.

( Budi Yuwono / CN32 / JBSM )

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Blok Khusus Napi Tipikor Akan Segera Dibangun

SUARA MERDEKA CyberNews – Minggu, 14 Agustus 2011

Semarang, CyberNews. Pemprov Jateng akan menggulirkan dana bantuan untuk pembangunan blok khusus bagi narapidana (napi) yang terjerat tindak pidana korupsi (tipikor) di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng Hadi Prabowo mengungkapkan, kepastian pengusulan kepada Kementerian Hukum dan HAM Jateng dan akan diteruskan ke pusat, agar secepatnya bisa merealisasikan blok khusus tersebut.

“Berapa alokasi dana masih diperhitungkan tetapi yang jelas prosesnya sudah diusulkan dan pembangunannya setidaknya butuh waktu satu tahun untuk merealisasikannya,” ujar Hadi Prabowo di sela upacara penyerahan remisi di LP Kedungpane Semarang, Minggu (14/8).

Untuk menunggu dukungan dana APBN, lanjut dia, dinilai terlalu lama dan sulit, padahal fasilitas LP Tipikor sangat penting mengingat banyaknya napi yang terjerat perkara korupsi.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah Widi Asmoro berharap, blok atau LP Tipikor ini bisa terealisasi pada tahun 2010. Bangunan ini akan dibangun satu lantai dengan 20 kamar. Sebelumnya memang pemerintah pusat berencana membangun LP khusus tipikor, namun urung karena dianggap ada provinsi lain yang lebih membutuhkan.

“Perencanaan gambar seperti apa serta usulannya akan diajukan bulan depan. Kita berharap secepatnya terealisasi ya,” ujar Widi.

Kepala LP Kedungpane Semarang I Nyoman Surya Atmaja menambahkan, saat ini LP Kedungpane sudah sangat overload melebihi kapasitas. Dari kapasitas sebenarnya hanya 530-an napi, kini LP Kedungpane dihuni oleh sekitar 980-an napi.

Blok tipikor nantinya akan berkapasitas antara 80-90 orang, dimana setiap kamar akan dihuni antara satu hingga tiga terpidana. Saat ini, di LP Kedungpane Semarang sudah ada 49 napi dan tahanan kasus korupsi.

Direncanakan, LP khusus ini akan berada di dalam Kedungpane dan dibangun di atas tanah seluas 600 meter persegi tepatnya di bagian belakang dekat masjid dan gereja di kompleks LP. “Blok khusus napi tipikor atau LP Tipikor memang sangat dibutuhkan di sini, karena kapasitasnya sudah overload,” ujar Nyoman.

( Modesta Fiska , Royce Wijaya / CN31 / JBSM )

14 Agustus 2011 Posted by | SEPUTAR JAWA TENGAH - PROV. JATENG | Tinggalkan komentar

Isi ‘Flash Disk’ Nazaruddin Masih Misteri

TEMPOinteraktif.Com – MINGGU, 14 AGUSTUS 2011

Petugas KPK menunjukkan Tas hitam kecil milik Muhammad Nazaruddin. TEMPO/Arnold Simanjuntak

TEMPO InteraktifJakarta – Tas hitam milik tersangka korupsi proyek wisma atlet SEA Games XXVI di Palembang Muhammad Nazaruddin dibuka di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada saat konferensi pers pada Sabtu malam, 13 Agustus 2011. Tas itu berisi 16 item barang, salah satunya flash disk.

Apa isi flash disk itu, sampai sekarang masih misteri. Pimpinan KPK M. Jasin yang dikonfirmasi mengatakan belum mengetahuinya. “Itu ada di penyidik,” kata Jasin, Ahad, 14 Agustus 2011.

Namun ketika dikonfirmasi apakah isiflash disk itu sudah diperiksa oleh penyidik atau belum, Jasin pun mengaku belum mengetahuinya. “Penyidik belum melaporkannya ke pimpinan, mungkin Senin nanti,” katanya.

Isi flash disk mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu menjadi penting untuk diketahui. Selama menjadi buron Interpol atas permintaan KPK, Nazar membeberkan beberapa koleganya di DPR yang diduga menerima uang dari proyek. Mereka di antaranya Angelina Sondakh, Mirwan Amir, dan I Wayan Koster, serta Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Keempatnya berkali-kali membantah tuduhan itu.

Nazar pun membeberkan dugaan pelanggaran kode etik para pimpinan KPK, satu di antaranya adalah Chandra M. Hamzah yang disebut pernah berkunjung ke rumahnya pada 2009 dan menerima duit dari seorang pengusaha untuk suatu kasus yang sedang diusut Komisi Antikorupsi. Chandra yang pernah dikonfirmasi membantah tuduhan anggota Komisi Energi DPR ini.

Nazar mengklaim punya bukti atas semua tuduhannya. Pada suatu wawancara melalui Skype yang ditayangkan di salah satu televisi swasta, Nazar menunjukkan flash disk dan compact disk yang menyimpan bukti atas tuduhannya itu.

Namun menjadi tanda tanya, di mana flash disk dan cd tersebut? Pada saat konferensi pers, tak ditegaskan jika flash disk yang disita itu sama dengan barang yang diperlihatkan Nazar saat wawancara.

Saat Nazar ditangkap di Cartagena, Kolombia, pada 7 Agustus lalu, Interpol mengamankan tas yang dibawanya, lalu diserahkan ke Duta Besar Indonesia di sana. Anggota tim penjemput Nazar, Arief, saat konferensi pers mengatakan tas itu masih dalam keadaan tersegel semenjak dari Kolombia. Sebelum disegel, tas sudah diambil gambarnya. Proses penyegelan tas bermerek Dunhill itu dilakukan di depan Duta Besar RI untuk Kolombia Michael Manufundu disaksikan dua orang dari kedutaan.

RUSMAN PARAQBUEQ

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Nazar Juga Dibidik 31 Kasus Senilai Rp 6 Triliun

TEMPOinteraktif.Com – MINGGU, 14 AGUSTUS 2011

Dipaksa Pulang

TEMPO InteraktifJakarta – Muhammad Nazaruddin ternyata tak hanya dibidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus suap Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Ternyata ada lebih dari 31 kasus yang kini sedang dibidik KPK, melibatkan eks Bendahara Umum Partai Demokrat itu.

Ketua KPK Busyro Muqoddas menyebut kasus-kasus yang diduga melibatkan Nazar sudah diklasifikasi menjadi tiga berdasarkan tahapan penyelidikan. Semuanya dengan nilai total sekitar Rp 6,037 triliun. “Perkara ini akan terus kami lakukan di KPK,” kata Busyro dalam jumpa pers di Komisi Antikorupsi, Sabtu 13 Agustus 2011 tengah malam.

Tahap pertama, kata Busyro, adalah kasus-kasus yang sedang dalam proses penyidikan. Ada dua kasus yang sudah masuk tahap ini. Keduanya terkait proyek senilai Rp 200 miliar di dua kementerian.

Tahap kedua adalah kasus yang berada dalam tahap penyelidikan. Ada dua kasus pula di dua kementerian dengan nilai Rp 2,642 triliun.

Tahap ketiga adalah kasus yang masih dalam tahap pengumpulan bahan. Tahap ini saja meliputi 31 kasus di lima kementerian.

Busyro berjanji akan terus menyampaikan kepada publik perkembangan pengusutan semua kasus itu. “Kami akan terus bekerja dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Nazaruddin kini sudah jadi tahanan KPK dan dititipkan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Ia dijemput setelah tertangkap karena perkara keimigrasian di Cartagena, Kolombia. Dia kemudian diterbangkan dari Bandara Eldorado, Bogota, Jumat 12 Agustus 2011 pagi WIB dan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta pada Sabtu sekitar pukul 19.50. Kini Nazaruddin menjalani pemeriksaan singkat di KPK kemudian akan ditahan di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

RINA W | RUSMAN

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Nazaruddin, Kisah 36 Jam di Dalam Gulfstream

TEMPOinteraktif.Com – MINGGU, 14 AGUSTUS 2011

TEMPO InteraktifJakarta – Buron Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M. Nazaruddin akhirnya bisa diseret kembali ke Indonesia. Pesawat bernomor N913PD yang membawa bekas Bendahara Partai Demokrat itu tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu malam, 13 Agustus 2011, pukul 19.50 WIB setelah menempuh perjalanan selama 36 jam. Pesawat Gulfstream buatan tahun 1982 itu terbang dari Bandara El Dorado, Bogota, Kolombia, pada Kamis sore waktu setempat atau Jumat subuh waktu Indonesia.

Danny, pilot pesawat tersebut, kepadaTempo mengatakan pesawatnya transit di 12 bandara. Semula pesawat yang disewa dengan biaya Rp 4 miliar itu diperkirakan mendarat di Halim sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, dalam keterangan resmi, pesawat jet Gulfstream ini hanya sempat dua kali transit, masing-masing di Bandara Sudan dan Dubai.

Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan keterlambatan pesawat itu karena masalah teknis. Johan menjelaskan pesawat harus melalui Nairobi, Dakkar, India, dan Maladewa. Waktu transit, pengisian avtur, hingga izin terbang menambah waktu perjalanan menjadi sekitar 36 jam.

Menurut Danny, Nazaruddin duduk di bagian belakang sebelah kiri. “Ia tidak banyak bicara,” ujar pilot Danny, yang baru pertama kali menerbangkan pesawat ke Indonesia. Danny sempat terheran-heran melihat pengawalan Nazar. “Apakah saya membawa orang penting di Indonesia?” ujarnya.

Selama perjalanan Nazaruddin dikawal tim gabungan. Tim itu beranggotakan 10 orang, antara lain Brigadir Jenderal Anas Yunus (Ketua) serta Aris Budiman, Fadhil Imran, Dadang Sutrasno, dan Dolifar (kesemuanya perwira menengah Polri). Lalu, ada Wiagus (perwira menengah Polri yang bekas penyidik KPK), Novel, Arif, dan Giri (penyidik KPK), serta Rohadi Iman Santosa (dari Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM).

Di Bogota, di antara para anggota tim ini, menurut sumber Tempo, empat perwira Polri telah membuntuti sejak jejak Nazar terendus di Republik Dominika. Mereka mendeteksi keberadaannya setelah yang bersangkutan melakukan wawancara via aplikasi Skype di Internet. Nazar ditangkap polisi Kolombia di ruang tunggu Bandara Rafael Nunez pada 6 Agustus lalu. Nazaruddin sempat diinterogasi di kantor polisi Bandara sebelum dibawa kantor SIJIN.

Y. TOMI ARYANTO (BOGOTA) | DIANING SARI | ARIE FIRDAUS | AMANDRA MUSTIKA M | DWI A

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Inilah Kisah Tim Gabungan Memburu Nazaruddin

TEMPOinteraktif.Com – MINGGU, 14 AGUSTUS 2011

Pesawat Gulfstream yang membawa M Nazaruddin tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta (13/8) malam. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO InteraktifJakarta – Tim Pemburu Muhammad Nazaruddin mengklaim tidakujug-ujug (tiba-tiba) saja mengetahui keberadaan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu di Kolombia. Mereka menyebut telah mendeteksi posisi Nazar sejak di di Dominika Commonwealth. Sejumlah tim bahkan sudah dikirim untuk membuntuti Nazar, yang diketahui memakai paspor atas nama Muhammad Syarifuddin, diketahui berada di Kolombia, dan ditangkap polisi setempat.

Kronologi itu disampaikan Ketua Tim Penjemput Brigadir Jenderal Polisi Anas Yusuf dan anggotanya, Rohadi Iman Santosa, dari Direktorat Jenderal Imigrasi dalam jumpa pers di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sabtu 13 Agustus 2011. Jumpa pers dihadiri Ketua KPK Busyro Muqoddas bersama empat pimpinan KPK lainnya dan Kabareskrim Komisaris Jenderal Polisi Sutarman dan anggota tim penjemput lainnya.

“Jadi pengejaran itu tidak ujug-ujug,”kata Anas Yusuf. “Kami sudah cukup lama mengikuti dengan investigasi dan teknis kepolisian, sehingga tim tahu persis di mana yang bersangkutan berada.”

Menurut Anas Yusuf, salah satu petunjuk yang dipakai tim penyidik adalah tayangan komunikasi visual Nazaruddin dengan layanan aplikasi Skype bersama jurnalis warga Iwan Piliang. Anas mengaku timnya cukup ulet, sehingga tahu posisi Nazaruddin waktu itu berada di Dominika.

“Kami beranjak dari dengan fakta yang ada,” kata Anas Yusuf. “Kami tahu kapan dia datang ke Dominika dan terus meninggalkan Dominika. CCTV-nya ada semua. Terus kami cek hotel bersangkutan,” tuturnya lagi.

Dari situ, kata Rohadi Iman Santosa, tim menerima informasi akurat kalau Nazaruddin memasuki Kolombia. Tim dari Mabes Polri terbang dulu menuju Dominika untuk melacak dan memburu Nazaruddin lebih lanjut.

 

 

 

Inilah kronologinya.

27 Juli 2011

Tim pemburu Nazaruddin berangkat menuju Dominika dengan pesawat komersial dari Jakarta. Tim ke Singapura terlebih dahulu kemudian ke Tokyo-Atlanta-New York-Puertorico-Antigua-Dominika.

29 Juli 2011

Tim tiba di Dominika dan bergabung dengan tim advance yang dipimpin Komisaris Besar Polisi Sugeng, SLO dari KBRI Washington DC. Proses pengumpulan data dilakukan. Hasilnya, terdeteksi dua nomor telepon yang dipakai Nazaruddin saat di Dominika.

Pengamatan CCTV di Port Autority Dominika juga menghasilkan Nazaruddin ke Dominika. Semula tak diketahui Nazar memakai paspor atas nama siapa karena paspornya sudah ditarik Imigrasi.

Dari rekam jejak dokumen General Declaration (dokumen yang memuat nama-nama awak pesawat yang dipakai dan orang yang ada di dalam pesawat) ditemukan nama Neneng Sri Wahyuni. “Kami mencari dengan patokan Nazaruddin berangkat dengan istrinya,” kata Rohadi.

Dalam daftar itu ditemukan nama Syarifuddin dan beberapa orang lainnya. Akhirnya diketahui bahwa Nazaruddin memakai paspor atas nama Syarifuddin. Dia didampingi Neneng Sriwahyuni, Nazir Rahmat, dan Eng Kiam Lim. Mereka masuk ke Dominika pada 18 Juli 2011 dan menginap di dua tempat penginapan.

Pada 23 Juli, Nazar keluar dari Dominika. Nazar cs terbang menuju Kolombia pakai pesawat carter.

Tim mengontak Interpol Kolombia dan memberi tahu bahwa Nazaruddin masuk Kolombia memakai paspor Syarifuddin. “Tim advance di sana menemukan dua nomor telepon yang telah dideteksi melakukan komunikasi di situ,” kata Rohadi. ”Kami bekerja sama dengan CID.”

6 Agustus 2011

Tim bergerak menuju Kolombia. Namun ketika sedang transit tim mendapat kabar bahwa Nazaruddin telah tertangkap di Kolombia pada 6 Agustus 2011. Nazaruddin ditangkap sendirian sedangkan istrinya tidak ditemukan. Saat ditangkap Nazaruddin melakukan dua pelanggaran: pelanggaran kriminal dan keimigrasian.

8-11 Agustus 2011

Tim bergerak cepat untuk segera memulangkan Nazaruddin ke Indonesia. Menurut Rohadi, tim pun mengambil kesepakatan dengan Pemerintah Kolombia untuk mengambil jalan tengah dengan melakukan deportasi terhadap Nazaruddin.

“Kami melakukan pembicaraan dengan Kementerian Luar Negeri Kolombia dan Kejaksaan Agung di sana untuk memulangkan Nazaruddin secepatnya,” ujarnya. “Jadi, kami mengambil jalan tengah. Nazaruddin dipulangkan dengan cara efusi (pengusiran) dengan tenggang waktu yang terbatas.”

Setelah itu tim pun bergerak cepat untuk mengurus pemulangan Nazaruddin dengan mencarter pesawat, sehingga Nazaruddin bisa hadir kembali di Indonesia pada Sabtu 13 Agustus 2011. Nazaruddin pun langsung dibawa ke Mako Brimob, kemudian dibawa ke KPK untuk dilakukan pemeriksaan awal.

WDA | TRI SUHATMAN

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

Kaligis: Saya akan Terus Bela Nazaruddin

KOMPAS.com – Minggu, 14 Agustus 2011
Istimewa
Muhammad Nazaruddin bertemu dengan pengacaranya OC Kaligis di Bogota, Kolombia. Foto ini tidak bertanggal.

JAKARTA, KOMPAS.com — OC Kaligis akan terus membela kliennya, M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap dalam pembangunan wisma atlet SEA Games 2011. “Kalau profesi ini, seluruh dunia sudah tahu, saya akan terus membela Nazaruddin,” ujar Kaligis di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Minggu (14/8/2011).

Setelah buron hampir selama tiga bulan, akhirnya Nazaruddin tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dari Kolombia,  Sabtu (13/8/2011) pukul 19.51 WIB. Bersama M Nasir, sepupu Nazaruddin, Kaligis hari Minggu (14/8/2011) berusaha menemui kliennya tersebut di rumah tahanan Mako Brimob. Namun, dirinya dilarang bertemu, karena penyidik KPK tidak mengizinkannya. Ia pun lantas menilai KPK takut dengan dirinya.

“Karena saya tahu terlalu banyak. Kalau saya tidak tahu A-Z, tidak akan seperti ini. Sayangnya, saya selama ini, tidak bisa bekerja sama dengan KPK. Kepentingannya juga beda, dia ngomong hukum saya membela,” kata Kaligis.

Lebih lanjut, menurut Kaligis, Undang-Undang 70 KUHAP, jelas mengatakan pengacara berhak menghubungi dan berbicara setiap waktu untuk kepentingan perkaranya. Ia menilai, KPK telah melanggar pasal tersebut. “Jadi kenapa Nazaruddin takut pulang, benar kan terbukti tidak ada perlakuan persamaan hak. Kita juga tidak bisa apa-apa. Semenjak kepulangannya saya tidak pernah ketemu. Saya lebih sering bertemu di Bogota,” tuturnya.

Seperti diberitakan, semenjak ditetapkan tersangka oleh KPK, politisi Demokrat tersebut beranjak ke Singapura dengan alasan untuk berobat karena sakit, pada Senin (23/5/2011). Namun, lambat laun, kepergiannya ditenggarai untuk menghindari kejaran aparat yang memburunya sejak namanya terpampang dalam daftar pencarian orang di situs Interpol.

Nazaruddin menuding beberapa pihak terlibat dalam kasusnya. Mulai dari rekan separtainya, yakni Ketua Umum partai Demokrat Anas Urbaningrum, Menteri Pemuda Olahraga Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, Mirwan Amir, I Wayan Koster, hingga pimpinan KPK Chandra M Hamzah, Ade Raharja, Busyro Muqqodas, M Jasin, Haryono Umar, dan Johan Budi SP.

Nazaruddin disangka melanggar tiga pasal penerimaan suap, yaitu Pasal 5 Ayat (2) dan atau Pasal 12 huruf a dan b, dan Pasal 11 undang-undang tentang Tindak Pidana Korupsi.

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

OC Kaligis: KPK Takut Sama Saya!

KOMPAS.com – Minggu, 14 Agustus 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Kuasa hukum M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011, OC Kaligis, menyayangkan sikap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi yang melarangnya bertemu kliennya di rumah tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Ia menilai KPK takut, hingga dirinya tidak boleh dipertemukan dengan kliennya tersebut. “Terlihat KPK tampaknya takut, sampai-sampai dia tidak bolehkan saya masuk. Dari kemarin saya tidak boleh masuk, padahal saya adalah kuasa hukumnya,” ujar Kaligis di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Minggu (14/8/2011).

Nazaruddin tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (13/8/2011) sekitar pukul 19.51 WIB. Setelah itu mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut langsung menuju ke Mako Brimob untuk menjalani tes kesehatan, dan kemudian menjalani pemeriksaan di KPK. Ia kembali ke Mako Brimob pada Minggu sekitar pukul 01.15 WIB.

Menanggapi hal itu, OC kembali menyayangkan langkah KPK yang tidak mengikutsertakan dirinya untuk ikut dalam pemeriksaan. Menurut dia, sebagai kuasa hukum Nazaruddin, dirinya berhak tahu berbagai kepentingan kliennya. “Lalu saya juga tidak diikutsertakan di pesawat Nazar kemarin. Kalau di pesawat, Nazar dicuci otaknya bagaimana? Dan, kalau dulu Pohan bisa dijenguk setiap saat. Pagi siang sore, tapi sekarang saya tidak tahu. Sekarang tidak bisa. Ini namanya diskriminasi,” kata Kaligis.

Seperti diberitakan, setelah hampir selama tiga bulan  buron, Nazaruddin akhirnya ditangkap di Cartagena, Kolombia, Minggu (7/8/2011) malam. Nazaruddin berangkat menuju Jakarta dari Bandara Eldorado, Bogota, Kamis (12/8/2011) sekitar pukul 17.00 waktu setempat atau Jumat pagi. Lebih kurang dia menjalani proses perjalanan selama 39 jam sebelum tiba di Jakarta.

14 Agustus 2011 Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL | Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: