KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Korupsi Alkes: Rp 4 Miliar Uang Jaminan, Bukan “Fee”


KOMPAS.com – Selasa, 19 Juli 2011

 

shutterstock
Ilustrasi.

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Sutedjo Yuwono menyangkal bahwa sejumlah uang yang diterimanya dari PT Bersaudara merupakan fee terkait pemenangan perusahaan tersebut sebagai rekanan pengadaan alat kesehatan (alkes) penanggulangan flu burung di Kemenko Kesra pada 2006. Menurut dia, sejumlah uang itu merupakan jaminan yang diberikan PT Bersaudara kepada Kemenko Kesra jika perusahaan terlambat mengirim alkes. Besaran uangnya pun, kata Sutedjo, bukan Rp 6 miliar seperti dakwaan jaksa melainkan Rp 4 miliar.

“Kalau jumlahnya (alkes yang terlambat datang) lebih dari lima persen, siapa yang mau bertanggung jawab? Makanya saya minta uang jaminan,” kata Sutejo,  Hal itu disampaikan Sutejo saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (19/7/2011).

Sutedjo merupakan terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alkes di Kemenko Kesra pada 2006. Pada saat itu, Aburizal Bakrie menjabat sebagai Menko Kesra.

Perihal pemberian uang jaminan tersebut tidak diatur dalam kontrak yang ditandatangani kedua belah pihak. “Tidak ada dalam kontrak,” katanya.

Uang jaminan senilai Rp 4 miliar itu, lalu disimpan di rekening milik Inspektur Jenderal di Kemenko Kesra, saat itu dijabat Gunarso Djoko Santoso. Menurut Sutejo, sebagian besar uang jaminan tersebut digunakan sebagai dana talangan untuk membiayai kegiatan Kemenko Kesra sebelum APBN cair,seperti talangan bantuan sosial pengiriman anak-anak peserta Olimpiade Fisika, bantuan penanganan banjir di Jakarta sebesar Rp 500 juta. “Selain itu ada bantuan untuk pembangunan kerajinan batu di Pacitan Rp 200 juta, untuk bantuan sosial Rp 2,1 miliar, bulan Desember 2007 ada bantuan untuk atlet dan pelatih olimpiade anak cacat di Shanghai sebanyak Rp 800 juta,” papar Sutedjo.

Namun, ada juga bagian uang jaminan yang digunakan Sutedjo untuk kepentingan pribadinya. Dia mengaku meminjam uang jaminan tersebut untuk biaya cangkok ginjal istrinya di China sebesar Rp 250 juta.

Seusai persidangan, jaksa M Rum mengatakan bahwa mekanisme uang jaminan tidak dikenal dalam pedoman pengadaan barang dan jasa, seperti yang diatur dalam Keppres Nomor 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Oleh karena itulah, jaksa menduga bahwa uang yang diberikan PT Bersaudara tersebut merupakan uang suap. “Kalau dia (PT Bersaudara) terlambat (kirim alkes), jaminan yang ada di kontrak seharusnya denda,” kata Rum.

Sutedjo didakwa memperkaya diri dalam proyek pengadaan alkes di Kemenko Kesra pada 2006. Dia juga didakwa menyalahgunakan wewenang sebagai kuasa pengguna anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran APBN-P Kemenko Kesra 2006. Sutedjo lantas didakwa melanggar Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Atas perbuatannya, diduga terdapat kerugian negara senilai Rp 36,2 miliar.

20 Juli 2011 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: