KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Kejahatan Adalah Tantangan bagi Filsafat dan Teologi


SUARA MERDEKA CyberNews – Kamis, 14 Juli 2011

Yogyakarta, CyberNews. Dari sudut kefilsafatan, kejahatan merupakan persoalan yang paling membingungkan dan menggelisahkan intelektualitas manusia. Kejahatan adalah isu besar yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia.

Hal itu disampaikan oleh Prof Dr Joko Siswanto mengutip Coln Canellan dalam karyanya ”Why Does Evil Exist? A Philosophical Study of the Contemporary Presentation of the Question”, pada pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Fakultas Filsafat UGM, di Balai Senat kampus Bulaksumur, Yogyakarta.

Ditambahkan, kejahatan adalah sebuah tantangan bagi filsafat dan teologi, serta filsafat ditantang untuk memberikan pemecahan yang dapat diterima oleh akal sehat. Dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial, kejahatan memperoleh arti yang semakin luas yang tidak semata-mata terbatas pada tindakan pelanggaran terhadap hukum atau pelanggaran terhadap batas toleransi masyarakat.

Kejahatan tidak lagi hanya diukur berdasarkan ”functional imperatives of social institution” sebagai kriteria moral, melainkan juga diukur oleh nilai kerugian yang diakibatkan terhadap masyarakat sebagai keseluruhan, bahkan juga terkait dengan pelanggaran terhadap HAM.

Dalam kesempatan itu, Prof Joko menegaskan bahwa problem kejahatan dari sudut pandang filsafat, berakar pada empat persoalan dasar. Pertama, persoalan tentang eksistensi Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu. Kedua, persoalan tentang eksistensi kejahatan sebagai tragedi realitas.

Ketiga, persoalan tentang eksistensi manusia yang bebas, sekaligus sebagai agen tanggung jawab. Keempat, persoalan tentang eksistensi alam yang dinamis dengan hukum-hukum dan perkembangannya sendiri.

Solusi

Menurutnya, untuk mencari solusi atas problem kejahatan salah satu tugas filsafat adalah membongkar ketidaksehatan penalaran yang mendasari argumentasi-argumentasi tertentu. Filsafat menyiapkan jalan pemahaman yang lebih baik dengan alasan-alasan positif.

Pasalnya, sebagai ilmu kritis, filsafat dalam mengembangkan kriteria material untuk pemahaman dan pemecahan masalah kejahatan tidak dapat membatasi diri hanya secara dogmatik pada premis-premis suatu tradisi tertentu atau pada diskusi formil inter ilmu pengetahuan.

Dikatakan bahwa dalam literatur filsafat dikenal bermacam-macam jenis kejahatan, tetapi pada umumnya orang hanya membedakan dua jenis kejahatan, yaitu kejahatan moral dan kejahatan alam. Kejahatan moral adalah bentuk kejahatan yang terjadi karena dan atas tanggungjawab manusia.

Kejahatan alam adalah kejahatan yang terjadi di luar tanggung jawab manusia. “Tetapi secara umum filsafat memahami kejahatan dari dua dimensi yaitu dimensi teoretis dan dimensi eksistensial,” ujarnya.

Sementara, terkait apakah persoalan kejahatan bersifat objektif, relatif, atau relasional, jawabannya sebagian besar ditemukan dalam karya Camus berjudul ”The Flague”. Dari karya itu dapat disimpulkan bahwa kejahatan lebih bersifat objektif, artinya simbol epidemi sampar yang dikategorikan sebagai jenis kejahatan alam, menimpa seluruh manusia dalam berbagai stratifikasi sosial tanpa tebang pilih.

( Bambang Unjianto / CN26 / JBSM )

14 Juli 2011 - Posted by | BERITA POLITIK DAN BERITA UMUM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: