KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Kepala Dinas Perhubungan Luwu Belum Ditahan


KORAN TEMPO -Senin, 31 januari 2011
Dua terpidana lainnya, dalam kasus serupa, sudah dipenjara.

PALOPO — Kejaksaan Negeri Palopo hingga saat ini belum mengeksekusi Kepala Dinas Perhubungan Luwu Alim Bachri, yang menjadi terpidana dalam kasus korupsi proyek penerangan jalan senilai Rp 1,2 miliar di Belopa, Kabupaten Luwu, tahun 2003. Saat itu, Alim menjabat sebagai kepala bagian umum di dinas tersebut sekaligus pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) proyek itu.

Ironisnya, dua terpidana dalam kasus yang sama, yakni Direktur CV Marto A.S. Maslim, selaku rekanan, dan Haerul alias Edo, konsultan proyek, sudah dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Palopo, Selasa dua pekan lalu.

Mereka mendekam di sana setelah Mahkamah Agung memutuskan keduanya diganjar hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan dan denda Rp 100 juta. Sedangkan Alim divonis satu tahun penjara dengan denda Rp 100 juta tanpa potong masa tahanan. Ketiga terpidana itu sudah pernah ditahan ketika kasus tersebut bergulir di Pengadilan Negeri Palopo.

Jaksa eksekutor, Greafik, kemarin membenarkan bahwa Alim belum dieksekusi. Ia menyebutkan eksekusi Alim masih menunggu keputusan kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, meski surat putusan Mahkamah Agung sudah dikirim ke sana.

Ia menilai, keputusan Mahkamah Agung tersebut aneh. “Karena putusan MA berbeda. Alim tidak dipotong masa tahanan, sedangkan yang lain dipotong. Ini yang menyebabkan terpidana belum dieksekusi,” kata Greafik kepada Tempo melalui ponselnya kemarin.

Proyek penerangan jalan umum di Belopa bersumber dari dana alokasi umum 2003. Hasil audit BPKP menyebutkan telah ditemukan penyimpangan. Dalam berita acara penyerahan disebutkan bahwa proyek sudah rampung. Namun setelah diperiksa, beberapa item masih dikerjakan dan ada yang tidak sesuai dengan bestek. Padahal dananya sudah cair 100 persen. Kasus ini merugikan negara sekitar Rp 300 juta.

Meski begitu, Pengadilan Negeri Palopo dan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan membebaskan mereka. Namun putusan kasasi Mahkamah Agung menyatakan ketiga terdakwa bersalah.

Belum ditahannya Alim Bahri mengundang reaksi dari keluarga terpidana lainnya. Syamsul, keluarga Haerul alias Edo, mengaku heran dengan sikap pilih kasih Kejaksaan Negeri Palopo. “Terpidananya kan tiga orang. Mengapa hanya dua yang ditahan,” ujar Syamsul.

Hingga berita ini ini diturunkan, Alim belum dapat dimintai konfirmasinya lantaran ponselnya tidak aktif. Pesan pendek yang dikirim Tempo juga tidak dibalas.

Tapi, menurut Greafik, Alim, bersedia ditahan. “Pak Alim juga sebenarnya sudah siap ditahan. Begitu ada perintah Kejaksaan Tinggi, eksekusi langsung kita lakukan,” katanya. MUHAMMAD ADNAN HUSAIN

31 Januari 2011 - Posted by | BERITA KORUPSI NASIONAL

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: