KP2KKN JAWA TENGAH

DEMI ANAK CUCU BERANTAS KORUPSI SEKARANG JUGA

Terjebak Gaya Hidup Hedonistik


SUARA MERDEKA – Senin, 09 Januari 2012

Oleh : Rakhmat Bowo Suharto
INGGA kini masih terlihat paradoks yang jelas dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Di satu sisi, berbagai upaya mencegah dan mengurangi korupsi telah dilakukan dengan menetapkan peraturan, kebijakan, dan program. Pada sisi lain, angka kejahatan korupsi, sikap dan perilaku koruptif di sebagian masyarakat belum menunjukkan penurunan berarti.
Indeks persepsi korupsi Indonesia dalam perkembangannya hanya memperlihatkan ingsutan saja dan tidak pernah mengalami lompatan berarti. Sejak tahun 2003 hingga saat ini,  indeks persepsi korupsi rata-rata hanya bergeser pada kisaran 0,2 saja. Di Jawa Tengah, menurut catatan Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, kasus korupsi di tahun 2011 berjumlah 102 kasus dengan modus penggelapan, mark-up dan penyuapan.Fenomena paling memprihatinkan adalah terlibatnya pelaku korupsi dari kalangan usia muda, seperti Gayus Tambunan terpidana kasus mafia pajak, dan M Nazaruddin tersangka kasus dugaan suap Wisma Atlet serta politikus muda lainnya. Juga ditemukan sejumlah rekening mencurigakan di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) berusia muda oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa negara gagal menekan angka kejahatan korupsi dan juga gagal menghentikan regenerasi pelaku korupsi. Mau dibawa ke mana nasib bangsa ini apabila generasi mudanya sudah terkontaminasi oleh perilaku korup?
Padahal di usia muda mestinya lebih produktif untuk membangun. Kepada mereka tongkat estafet kepemimpinan akan diberikan.

Kenyataannya masih ada ruang gelap di lorong masa depan bangsa ini dari generasi muda seperti contoh di atas. Di tangan anak-anak muda semacam itulah kita berada dalam belitan kesulitan, karena triliunan uang negara raib, kehidupan perekonomian terganggu, kemiskinan menjadi kian masif. Tepatnya, mereka menjadi sumber permasalahan yang merusak tatanan.

Hedonistik

Persoalannya adalah, mengapa korupsi dapat dengan mudah terwariskan kepada generasi muda seperti itu? Gayus Tambunan dan Nazaruddin mewakili kelompok pemuda yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik yang merupakan anak dari peradaban materi dan kelompok ”gila kekuasaan” yang lahir dari kultur demokrasi tidak matang.

Korupsi adalah jalan pintas, dan melalui korupsi uang dapat diperoleh dalam jumlah besar dengan cara mudah, sekedar untuk menghamba kepada materi dan kekuasaan tadi. Hal ini menunjukkan sistem administrasi publik pengelolaan keuangan negara masih mudah dimanipulasi dan dimanfaatkan untuk merampok uang negara.
Sementara itu, penegakan hukum tindak pidana korupsi belum mampu memberikan efek jera dan tidak mampu juga menebar ancaman ketakutan, sehingga terjadilah regenerasi koruptor. Benarlah apa yang dikemukakan oleh Francisco Ramirez Torres bahwa godaan untuk melakukan korupsi muncul ketika keuntungannya besar, kemungkinan tertangkapnya kecil, dan hukumannya ringan.

Fenomena regenerasi koruptor memberikan peringatan kepada kita bahwa nasib bangsa tengah dipertaruhkan. Diperlukan langkah strategis untuk memutus rangkaian regenerasi agar perilaku korup tidak terwariskan atau minimal tidak mudah terwariskan.

Dengan berbagai faktor di atas, maka upaya preventif untuk menangani faktor penyebab yang ada di hulu menjadi penting dilakukan. Dalam kerangka ini kita patut berharap pada implementasi rencana aksi pemberantasan korupsi tahun 2012 sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 17 tahun 2011 yang mengatur rencana aksi pencegahan dan pemberantasan korupsi yang terdiri atas 13 fokus dan 106 rencana aksi. Inpres ini memasukkan upaya baru pencegahan korupsi, yakni pendidikan dan budaya antikorupsi.

Selain itu, evaluasi dan perbaikan sistem administrasi publik terkait dengan pengelolaan keuangan negara dan penyelenggaraan pemerintahan pada umumnya, perlu terus dilakukan.
Namun demikian, upaya ini mesti harus dilakukan dalam keseimbangan, agar perbaikan sistem tersebut tidak mengakibatkan ketakutan yang berlebihan  para aparat administrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam konteks penegakan hukum, KPK perlu menerapkan kebijakan radikal untuk  fokus pada pembersihan aparat penegak hukum yang korup, agar mereka tidak menjual kewenangan dan mampu melakukan penegakan hukum dengan penuh keperdulian kepada nasib bangsa. Upaya ini tidak dapat dilepaskan dari pembenahan sistem politik, karena begitu kasus atau perkara korupsi berkelindan dengan politik, penegakan hukum kita belum teruji keampuhannya.

Di atas semua itu, diperlukan pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi pada pemberantasan korupsi, memberikan contoh perilaku hidup sederhana. Bersih, berani dan tegas dalam melakukan pemberantasan korupsi, agar mampu menghimpun energi dan modal sosial masyarakat untuk bersama-sama melawan korupsi. Bersamaan dengan itu, warga masyarakat juga dituntut  menjadi warga yang memiliki kesadaran dan keperdulian kepada nasib bangsa, lebih terinformasi, memiliki solidaritas dalam pemberantasan korupsi, tidak apatis, serta tidak mementingkan diri sendiri.(80)

— Penulis adalah pengajar di Unissula

About these ads

9 Januari 2012 - Posted by | ARTIKEL, KP2KKN DALAM BERITA

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: